Senin, 09 Juli 2012
Nasehat Imam Al Ghazali untuk Pembelajar
Living Islam
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Travel |
| Author: | Herry Nurdi |
Buku yang merupakan buah perenungan penulis tentang segala peristiwa. Kemudian, kita akan diajak mengambil pelajaran darinya, menatap setiap kejadian bukan saja dengan mata fisik, melainkan juga mata batin.
Buku ini terdiri dari 7 bagian. Setiap bagian terdiri dari banyak kisah/buah pikiran yang ditulis pendek-pendek, cukup satu atau dua lembar. Selayaknya Chiken Soup, namun lebih bernilai ilahiyah, bukan sekedar duniawi. Setiap kisah diawali dengan sepenggal kalimat yang merupakan gagasan tulisan tersebut.
Karena kisahnya yang pendek-pendek, bisa menjadi teman bepergian yang menyenangkan. Selamat membaca dan menyelami lautan hikmah dengan membaca!
Nb: sederhana saja, mungkin apa yang diutarakan penulis pernah terlintas dan terbersit dalam benak kita. Bedanya, ia menuliskannya, sehingga banyak orang mengambil manfaat darinya, sementara kita tidak.
Senin, 02 Juli 2012
Keinginan yang (Tampak) Sederhana
Tampak sederhana, bahkan terkadang kita berkata 'buat apa?', namun beginilah semestinya kita, mumpung masih muda. Semoga mereka mampu menginspirasi kita dengan keinginan mereka yang (tampak) sederhana. Karena di mata Allah, tiadalah yang tampak kecil.
Jumat, 08 Juni 2012
Ajakan Mempelajari Sejarah Nabi
Tidaklah semestinya seseorang yang mengaku umat Rasulullah SAW, menerima begitu saja cerita-cerita tentang bagaimana beliau, dari seorang/sekumpulan orang yang berbicara menurut hawa nafsunya (kebencian dan penyakit hati lain), kepentingannya, dan tanpa bukti yang nyata, Pelajarilah peri kehidupan beliau dari sumber terpercaya, dari orang-orang yang berbicara karena ilmu dan rasa takutnya kepada Allah (ulama-ulama terdahulu).
Niscaya, anda akan temukan kemuliaan akhlak beliau dan kecintaan anda kepada beliau akan menjadi-bukan sekedar status semata-.
Al-Imam Abdullah Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:
“Menurutku, sanad (periwayatan) adalah bagian dari agama. Andai bukan karena sanad, niscaya siapapun dapat mengatakan apa saja yang dikehendakinya.”
Semakin dekat kita dengan sumber mata air, semakin jernih airnya. Demikian pula dengan ilmu. Jika ilmu yang kita pelajari bersumber dari literatur primer akan lebih akurat dibandingkan literatur sekunder dan seterusnya. Tapi ingat, kita butuh para ahli dalam menafsirkannya. Jadi, teliti siapa penulis dari setiap buku yang anda baca.
Minggu, 06 Mei 2012
Every Soul Shall Taste Death
Tentu, kadang aku coba menyelami bagaimana perasaan orang-orang terdekatku. Aku bukan pembaca perasaan dan pikiran orang, mungkin semacam prasangkaku saja (yang kunilai sebagai prasangka baik). Sesungguhnya, ini adalah caraku menatap diriku sendiri dalam cermin. Kali ini Ibuku. Yang aku rasakan adalah, saat menyetrika, Ibu tengah mensyukuri apa yang ia dapat sampai saat ini. Bagaimana ia melewati masa kecilnya, remaja, dewasa, berkeluarga, hingga lahir anak-anaknya. Ia heran, anak-anaknya yang dulu masih kecil-kecil kini ia lihat sudah tumbuh besar. Setelah menyelami dirinya, aku kemudian melihat ke dalam diri sendiri.
Setiap orang akan terus tumbuh sampai batas waktunya. Aku hidup saat ini. Bukan kemarin, sejam atau semenit yang lalu. Bagaimana dengan besok? Aku teringat satu kata 'mati'. Seketika aku disergap ketakutan dan was-was, menahan tangisan. Kita pasti akan melewatinya. Ya, semua dari kita. Tapi, akan berakhir seperti apa? Itu lebih mengerikan ketimbang mati itu sendiri. Kadang, aku berpikir 'seandainya' mati adalah sebuah akhir, tentu aku lebih memilihnya secepat mungkin. Sayangnya, ia adalah awal. Awal dari kebahagiaan atau kesengsaraan abadi. Betul sekali, dengan demikian, memang mati adalah nasehat paling TOP hanya bagi orang-orang yang memercayai kehidupan setelah kematian. Mengapa hanya bagi mereka? Karena banyak juga orang-orang yang tidak takut terhadap nasehat itu, bahkan menjadikannya bahan lelucon. Orang yang menjadikan nasehat kematian sebagai lelucon, ia tertawa terbahak bersama sejumlah orang, padahal malaikat maut tengah mengintainya. Ia pasti datang, tepat waktu dan tak dapat diingkari.
Kita begitu lemah bahkan untuk melawan diri sendiri. Inginnya kita peroleh pilihan pertama, namun pikir, rasa, kata, dan laku kita tidak seutuhnya mengarah ke sana.
Sabtu, 07 April 2012
Adakah Mantan Akhwat ?
ilmu sebagai bekal, amal sebagai pergerakan, dan jama'ah sebagai penjagaan
Pada salah satu hari di minggu ini, karena suatu keperluan, saya mengunjungi sebuah rumah. Penghuni rumah ini berisi bapak, ibu, anak lelaki, dan anak perempuan. Setelah lama berbincang, si Ibu berkata.”Mba, kenal akhwat-akhwat tarbiyah ya?” Tentu, mungkin karena saya mengenakan rok dan kaos kaki, plus jaket gombrong, meskipun jilbab saya tidak terlihat, si ibu bisa menerka kiranya saya anak pengajian.
“Iya Bu, kebetulan saya tarbiyah. Kenapa memangnya Bu?” Saya penasaran karena ibu ini potongannya ammah. Istilah akhwat tarbiyah tentu hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu/pernah terlibat aktivitas pengajian.
“Saya dulu juga ngaji bareng akhwat-akhwat tarbiyah” tambah si ibu.
“Oo, di mana Bu?” ternyata betul si ibu pernah ngaji.
“Di kampung. Dulu sih waktu SMA” Tambah si ibu. Beliau ini asli Tegal.
“Sekarang udah enggak lagi. Dulu ngajinya bareng ummahat-ummahat pada bawa anak. Terus kalau akhwat dijodohkan dengan ikhwan ya. Saya dulu juga tapi gak jadi. Eeh, malah sama si Bapak.” Kata si ibu sambil menunjuk ke arah suaminya.
“Yaa, udah jodohnya Bu” saya menimpali sambil nyengir.
Mantan akhwat. Oh how? Saya miris jika melihat dalam rumah tersebut, tiada sedikitpun bekas yang menunjukkan ibu ini pernah ngaji. Alhamdulillah si ibu berjilbab. Maksudnya, bekas pada suami dan anak-anaknya. Saya teringat perkataan Mr saya, amat disayangkan jika seorang akhwat yang bertahun tarbiyah kemudian berhenti. Padahal, lewat tarbiyah para akhwat beroleh motivasi dan ilmu sebagai bekal menjadi madrasah pertama putra putrinya. Bekal ilmu pula dalam bermasyarakat dan bagaimana ia mewarnai tempat ia berada dengan nilai-nilai ma’ruf. Mengubah dirinya, keluarganya, masyarakatnya, kemudian negara dan dunia.
Benar sekali. Tarbiyah bukanlah segalanya. Kita tidak belajar ilmu fiqih secara detail, ilmu syariah secara menyeluruh, ilmu tafsir secara lengkap. Karena jika pembinaan adalah menguasai ilmu-ilmu tersebut, toh banyak media lain, tak perlu pembina/pembimbing. Di buku, internet, radio, dan tivi bertebaran materi-materi dan ilmu-ilmu tersebut.
Pembinaan rutin dengan seorang pembina adalah ruang motivasi agar manusia mau terus membekali dirinya dengan ilmu dan bergerak amal, ruang penjagaan jiwanya, dan mengembangkan potensinya. Karena hakikatnya, belajar ilmu adalah belajar adab. Bagaimana seseorang berinteraksi dengan seorang ‘guru’ dengan adab-adab yang baik. Belajar sekedar lewat media tidak akan mengajarkan manusia akan adab dan tidak akan mengubah akhlak, karena gurunya adalah benda mati.
Bahkan, seorang guru pun harus berguru lagi. Misalnya, jika ia seorang hafiz, ia harus talaqqi dengan seorang guru, mengulang hafalan dan bacaanya apakah ada kesalahan. Jika seseorang berhenti belajar maka akan timbul berbagai penyakit. Salah satunya adalah merasa paling benar, dalam memutuskan suatu perkara akan jadi asal bunyi dan asal beda. Hal ini berbahaya, apalagi jika ia seorang yang berpengaruh. Dengan belajar dan berguru terus menerus, kita akan selalu diberikan koreksi.
Pembinaan dalam tarbiyah adalah ruang penjagaan. Domba yang sendirian akan mudah dimangsa serigala daripada domba yang berkelompok. Dengan berjamaah, kita bisa saling menasehati dan mengingatkan. Jika kita sendirian, maka setan akan mudah menghasut kita. Maka, jama’ah adalah sebuah keharusan.
Sungguh berharga akhwat-akhwat ini. Seorang yang pemahaman agamanya baik, ia akan cepat matang. Mereka lebih tahan terhadap tantangan zaman. Seorang ulama kontemporer pergerakan islam, Sayyid Quthb berkata,
Kita sudah lama mengatakan kepada manusia: mereka yang dididik oleh Islam lebih lurus jalannya, lebih kuat tekadnya, lebih mampu memikul tanggung jawab, lebih serius mengambil dan melaksanakan sesuatu. Sebab mereka punya hati nurani sebagai penjaga, punya agama sebagai sandaran, dan punya Al Qur’an sebagai petunjuk jalan.
Ini adalah bahan perenungan, terutama bagi diri saya pribadi. Akhirnya, saya memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah agar kita diberikan hidayah dan ditetapkan di atas hidayah itu hingga akhir hayat. Segala kesalahan murni dari diri pribadi.
CMIIW
Kamis, 05 April 2012
Pembunuhan Karakter yang Sangat Kejam
Semoga Allah Ta'ala menolong kita semua dan membaguskan keturunan kita:
******
RABU, 11 Oktober tahun 2006, seorang juri yang disebut ustadz berkata kepada salah satu kontestan Pildacil yang baru saja usai memberikan “taushiyah”. Juri ini berkata, “Kamu terbaik saat ini. Ini yang diinginkan juri. Beberapa tahun ke depan, rumah dan mobil kamu akan mewah. Kamu juga akan bisa membangun masjid.”
Fantastis. Sebuah “nasihat” yang membuat miris, sehingga tak cukup hanya dijawab dengan tangis. Sebuah “nasihat” yang seharusnya membuat orangtua ngeri membayangkan masa depan anak-anaknya, kecuali jika pertanyaan yang menguasai benak kita tentang anak-anak adalah apa yang akan mereka makan sesudah kita tiada. Bukan apa yang mereka sembah, sehingga apa pun yang mereka kerjakan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.
Bukankah Allah Ta’ala sudah berfirman?
“Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".” (Al-An’aam: 162-163).
Inilah orientasi hidup yang perlu kita hunjamkan ke dada anak-anak kita. Kita hunjamkan keinginan untuk menolong agama Allah ke dalam hati mereka sekuat-kuatnya. Semoga dengan itu, ia menjadi orang yang ikhlas dalam memberikan hartanya, hidupnya, dan dirinya bagi agama ini. Sesungguhnya, amal itu bergantung pada niat. Jika anak-anak itu kelak menyembah Allah karena mengharap dunia, maka mereka tidak akan memperoleh akhirat. Sedangkan dunia belum tentu mereka dapatkan. Na’udzubillahi min dzaalik.
Adapun jika mereka membaktikan shalat, ibadah, hidup dan matinya untuk Allah semata-mata, maka sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Insya Allah mereka akan mampu menggenggam dunia dengan tangan kanannya, sedangkan di akhirat menanti surga yang penuh barakah. Allahumma amin.
Kuatnya orientasi hidup inilah yang harus menjadi perhatian kita; para orangtua dan pendidik di sekolah. Bahkan seandainya yang kita inginkan dari mereka adalah kesuksesan karier di dunia ini, kita harus menanamkan pada anak-anak kita orientasi hidup yang kuat dan bersifat spiritual. Dalam tulisannya yang bertajuk Educational Psychology Interactive (2000), W. Huitt menunjukkan bahwa seorang brilliant star (bintang brilian) –istilah Huitt tentang mereka yang memiliki prestasi luar biasa melebihi orang-orang sukses pada umumnya—biasanya memiliki ciri spiritual yang sangat khas, yakni disciple & devout. Disciple berarti ia sangat percaya pada gagasan atau ajaran seorang pemimpin besar atau guru spiritual. Sedangkan devout menunjukkan ketaatan yang sangat kuat.
Masih menurut riset W. Huitt. Seorang brilliant star juga memiliki ciri sosial yang transenden. Apapun yang ia lakukan di masyarakat adalah dalam rangka mewujudkan perintah Tuhan di muka bumi dan menjadi pelayan yang rendah hati bagi ummat manusia. Ia berbuat banyak, bahkan melampaui yang bisa dilakukan orang lain, tetapi selalu merasa belum berbuat apa-apa yang pantas bagi orang lain. Ia banyak memberi manfaat, tetapi selalu merasa apa yang dilakukan belum cukup untuk mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla.
Apa yang bisa kita petik dari catatan Huitt tentang brilliant star? Kunci paling pokok untuk mengantarkan anak meraih sukses adalah membentuk jiwanya, membangun motivasinya, membakar semangatnya, dan mengarahkan orientasi hidupnya semenjak dini. Kita bakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik demi sebuah idealisme yang buahnya ada di surga. Kita tumbuhkan pada dirinya orientasi hidup yang bersifat spiritual sejak usia kanak-kanak. Kita bangkitkan cita-cita untuk menjadi orang yang paling banyak memberi manfaat bagi agama ini dengan harta dan jiwanya.
Ini semua merupakan akar motivasi. Di sekolah, hal-hal yang bersifat motivasional tersebut secara keseluruhan termasuk bagian dari dasar-dasar berpengetahuan (the basic of knowing); bagian penting pendidikan yang harus kita bangun pada para peserta didik di jenjang sekolah dasar, terutama kelas satu sampai tiga. Mudah-mudahan dengan itu anak kita memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Bukan motivasi ekstrinsik, yakni tergeraknya seseorang melakukan sesuatu karena dorongan dari luar. Bukan karena merasa apa yang dilakukannya itu baik dan memang seharusnya dilakukan.
Jika motivasi intrinsik memiliki akar yang kuat sehingga sulit diruntuhkan, maka motivasi ekstrinsik justru mudah patah tanpa perlu kita patahkan. Semakin intrinsik motivasi seseorang, semakin kuat daya tahannya melakukan sesuatu dengan penuh semangat.
Pada masa kanak-kanak, motivasi masih dalam proses perkembangan. Fase pembentukan yang paling penting berada pada rentang usia 0-8 tahun. Selanjutnya, usia 9-12 tahun merupakan fase penguatan. Secara umum, anak-anak mencapai kemapanan motivasi pada usia dua belas tahun. Artinya, pada usia ini motivasi anak cenderung stabil, meskipun masih ada kemungkinan berubah. Jika pada usia-usia sebelumnya orangtua dan guru secara terus-menerus membangun motivasi intrinsiknya, insya-Allah pada usia ini kuatnya motivasi sudah menjadi karakter anak.
Nah, apakah yang ditawarkan di acara yang bernama Pildacil? Anak-anak dilatih menirukan ceramah –bukan mengekspresikan gagasan secara alamiah—untuk meraih mimpi-mimpi tentang uang yang berlimpah, umroh gratis dan bahkan sekaligus ambisi punya rumah mewah seperti komentar juri yang saya kutip di awal tulisan ini.
Lalu, akan kita bawa ke mana anak-anak kita jika di usianya yang masih sangat belia, sudah sibuk mendakwahkan agama untuk meraih dunia? Padahal, hari ini mereka seharusnya membangun motivasi yang kuat, budaya belajar yang kokoh, integritas yang tinggi, dan visi besar yang bernilai spiritual.
Wallahu a’lam bishawab.
Di luar itu semua, ada beberapa hal yang memprihatinkan bagi perkembangan mereka di masa mendatang, terutama jika mengingat bahwa tidak mungkin mereka bisa tampil di Pildacil kecuali karena ada potensi besar pada diri mereka. Pertama, jika melihat cara mereka berbicara dan sorot matanya saat tampil, tampak betul bahwa mereka bukan sedang mengekspresikan gagasan. Tetapi mereka sedang belajar mengambil jalan pintas. Mereka menjadi kaset yang diputar ulang. Materi ceramah dan gaya berbicara, tidak sedikit yang menunjukkan bahwa bukan diri mereka yang tampil. Barangkali tidak disadari, cara seperti ini merupakan pembunuhan karakter positif anak.
Kedua, di saat anak-anak harus belajar beramal dengan ikhlas dan gigih berusaha, mereka melihat kenyataan bahwa yang membuat mereka hebat bukan usaha keras mereka untuk berbicara dengan sebaik-baiknya, tetapi seberapa banyak SMS yang masuk untuk dia. Di banyak tempat, pembunuhan karakter berikutnya terjadi: dari orangtua, pejabat pemerintah hingga pemuka agama yang tidak visioner berlomba mengeluarkan dana sekaligus menyeru untuk berkirim SMS sebanyak-banyaknya. Sekali lagi, anak belajar praktek manipulasi. Padahal orang dewasa pun seharusnya tetap belajar untuk secara jujur mengakui keutamaan orang lain dan berusaha mengambil pelajaran dari orang lain yang lebih baik.
Dampak lebih jauh dari praktek manipulasi suara –sebagian orangtua bahkan sampai menjual harta berharga untuk mendongkrak perolehan SMS—masih sangat panjang.
Tetapi belum cukup kuat hati saya untuk membahasnya saat ini. Semoga Allah berikan kepada saya kekuatan untuk menulis yang lebih tuntas di waktu mendatang.
Ketiga, anak-anak yang seharusnya belajar membangun visi hidup dan orientasi spiritual, justru kehilangan elan vital (daya hidup) untuk terus mencari ilmu dengan sebaik-baiknya karena fokusnya justru bagaimana menarik perhatian publik. Bukan menyampaikan apa yang baik. Bukankah apa yang harus disampaikan sudah dilatihkan?
Tiga hal ini hanyalah sebagian alasan mengapa kita harus menahan diri agar tidak menjerumuskan anak-anak kita ikut Pildacil. Terlalu kecil harga yang mereka terima untuk sebuah kehilangan yang sangat besar.
Anak-anak itu sangat luar biasa potensinya. Alangkah besar manfaat yang bisa dipetik oleh agama dan ummat manusia jika kita memilih membangun kekuatan jiwa, aqidah, iman, akal budi dan kegigihannya saat ini sehingga kelak mereka bisa memberi kebaikan yang sebesar-besarnya. Betapa pun, harus kita akui dengan jujur, Pildacil sama sekali bukan untuk melakukan pembibitan generasi Islam.
Pildacil adalah bisnis dan hiburan, karena hanya inilah kamus yang dikenal oleh TV!
Senin, 16 Januari 2012
Ahsanu Amalaa
Senin, 12 Desember 2011
Makna Tartil
Minggu, 27 November 2011
Kamis, 17 November 2011
Teruntuk Mujahid dan Mujahidah Da'wah
Minggu, 30 Oktober 2011
Pendidikan di Negeriku
Jumat, 21 Oktober 2011
Kumpulan Tulisan Anis Matta
Attachment: Mencari Pahlawan Indonesia, Anis_Matta.pdf
Attachment: Pahlawan Kebangkitan by Anis Matta.pdf
Attachment: Ringkasan Buku Menikmati Demokrasi karya Ust Anis Matta, Lc.pdf
Minggu, 14 Agustus 2011
Al Qur'an, Buku Manual Kita
Sebelum masuk ke bahasan dengan judul tersebut, saya hendak mengajak sobat semua mendiskusikan hal berikut. Tentunya sobat semua memiliki barang elektronik di rumah kan? Misalnya handphone dan laptop. Sebagai pemilik, kita selalu berharap agar barang elektronik tersebut tahan lama dan awet. Bagaimana supaya barang-barang tersebut bisa awet? Sobat semua lebih tau. Mengisi baterai dalam kurun waktu tertentu, tidak meletakkannya di suhu tertentu, tidak meletakkan di kelembaban tertentu, dan sebagainya. Lebih jelasnya kita bisa lihat petunjuk perawatan barang-barang tersebut di buku manualnya. Kalau kita membeli barang tersebut (asumsikan sebagai barang baru), tentunya sudah sepaket dengan buku manual atau buku petunjuknya. Isinya adalah fitur barang, petunjuk pemakaian, perawatan, dan cara mengatasi masalah umum yang biasa terjadi.Buku ini dibuat oleh sang insinyur. Sang insinyur paling tahu kelebihan, kekurangan, dan ketahanan barang buatannya. Jadi, kalau mau barang-barang elektronik tersebut awet, kita mesti mengikuti buku manual/petunjuknya.
Selanjutnya, mari kita melihat ke dalam diri kita sebagai manusia. Manusia hidup dengan siklus tertentu, awalnya bayi, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya meninggal dunia. Sebagai orang beriman, yang percaya adanya hari perhitungan, kita menyadari bahwa hidup kita yang singkat itu haruslah berarti. Maksudnya, bagaimana agar kita bisa selamat dan bahagia dunia akhirat. Karena, tempat akhir kita hanya dua, kalo gak surga ya neraka.
Nah, kayak barang elektronik tadi, supaya bisa selamat dunia akhirat tentu kita harus pandai-pandai merawat diri kita, baik secara lahir maupun jiwa. Lahiriah kita harus dirawat sebagai rasa syukur kepada Allah. Dengan merawatnya, ia menjadi sehat dan ibadah menjadi lebih optimal. Jiwa kita juga butuh perawatan. Biasanya kita menyebut perawatan jiwa sebagai siraman ruhani. Sebagaimana tumbuhan yang membutuhkan air yang harus selalu disiram berkala agar tetap hidup. demikian juga dengan jiwa yang harus ‘disiram’ secara rutin agar tetap hidup.
Bagaimana cara merawatnya? Bagi manusia, buku manualnya adalah Al-Qur’an. Allah yang menciptakan kita, Ia Yang Paling Tahu kekurangan, kelebihan, dan ketahanan kita. Dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk bagaimana kita merawat lahiriah dan jiwa kita. Dalam Al-Qur’an terdapat terapi berbagai penyakit baik lahiriah maupun jiwa. Di dalam Al-Qur’an terdapat perintah dan larangan dari Allah. Perintah shalat, puasa, zakat, berhaji,dan sebagainya. Ada juga larangan zina, mabuk, membunuh, mencuri, dan sebagainya. Kesemua itu adalah bentuk perawatan bagi lahiriah dan jiwa kita. Jadi, agar kita bisa selamat tentunya kita mesti menjalankan petunjuk yang terdapat dalam manual kita (Al-Qur’an).
Salah satu bentuk perawatan yang Allah tawarkan dalam Al-Qur’an (bahkan dalam bulan Ramadhan menjadi sebuah kewajiban) adalah puasa. Berbagai manfaat puasa akan diperoleh bagi orang-orang yang menjalankannya.
Manfaat bagi lahiriah adalah menyehatkan. Dalam keseharian di luar puasa, kita memperoleh energi dari makanan yang masuk ke tubuh. Makanan akan dicerna (dilumat) di lambung, kemudian diserap usus ke aliran darah menuju hati. Di hati, sari-sari makanan disaring sebelum diedarkan ke seluruh tubuh. Tujuan penyaringan adalah untuk membuang benda asing (racun dan zat berbahaya) yang mungkin terdapat dalam makanan yang kita makan. Setiap hari, hati bekerja demikian berat tanpa istirahat. Nah, di bulan Ramadhan saat kita puasa siang hari, tentu tidak ada makanan yang masuk. Darimanakah sumber energi diperoleh? Dari cadangan lemak di bawah kulit. Racun dan zat berbahaya mudah larut di lemak. Jika lemak diurai, maka zat-zat tersebut akan lepas dan ikut diurai. Jika cadangan lemak sedikit, maka secara otomatis sistem dalam tubuh akan memburu bagian lain, yaitu sel-sel mati, kutil, tumor, dan sebagainya. Kesemua itu akan diurai dan dijadikan sumber energi. Hasil penguraian dibawa ke hati untuk disaring. Zat yang bisa diolah akan dimanfaatkan dan zat sisa (masih berupa zat berbahaya atau racun bagi tubuh) akan dibuang lewat keringat, pernafaasn, dan urin.
Karena tidak ada makanan yang disaring oleh hati, maka kerjanya menjadi ringan dan optimal dalam melakukan detoksifikasi (penjelasan tentang penguraian sel mati dan tumor di atas tadi). Sel-sel mati akan diganti dengan sel baru, baik sel di hati itu sendiri maupun di organ/jaringan lain. Dengan demikian performa sel-sel di organ tubuh menjadi lebih baik, dan hasilnya adalah tubuh lebih sehat. Subhanalloh.
Selanjutnya adalah perawatan jiwa. Puasa juga memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan jiwa manusia. Berikut ini manfaatnya.
1. Melatih jiwa untuk menyempurnakan penghambaan kepada Allah
Puasa adalah ibadah eksklusif antara seorang hamba dengan Allah. Berbeda dengan ibadah lain seperti shalat, zakat,dan haji yang secara zahir bisa dilihat manusia lain. Kalau puasa, apakah sebagai hamba ia benar jujur berpuasa meski tidak dilihat orang? Hanya sang hamba dan Allah saja yang tahu. Maka, balasan ibadah puasanya pun istimewa. Sebagaimana yang tertera dalam hadist.
“Tiap amal anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan menjadi 10 hingga 700 kali lipat. Allah berfirman,’Kecuali puasa, maka puasa itu milik-Ku, dan Aku yang akan membalasinya, karena puasanya itu, ia meninggalkan makanannya dan syahwatnya karena Aku.’ ” (HR Bukhari dan Muslim)
2. Memperkuat motivasi dan kesabaran
Bangun di waktu sahur untuk sahur kemudian menahan diri dari yang membatalkan puasa dari subuh s.d waktu berbuka membutuhkan tekad dalam pelaksanaannya. Jika hal ini bisa dilakukan seseorang, maka untuk hal lain dapat dipastikan ia mampu menumbuhkan tekad pula. Misalnya saja shalat malam yang tersembunyi. Untuk bangun sahur ia mampu, apatah lagi bangun untuk shalat malam, apatah lagi untuk ibadah-ibadah lainnya?
Puasa memperkuat kesabaran di saat sulit. Jika ia mampu menahan emosi dan kelemahan jiwanya di waktu puasa, maka persoalan hidup dan kesulitan yang dihadapinya tentu menjadi lebih mudah karena ia terbiasa melatih dirinya di waktu berpuasa.
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…” (al Baqarah: 45)
Karena ternyata, sabar dalam ayat tersebut maksudnya adalah puasa (tafsir Ibnu Katsir).
3. Melatih jiwa melawan hawa nafsu
Memang benar setan dibelenggu di waktu Ramadhan. Lalu mengapa banyak manusia tetap melakukan dosa? Jawabannya adalah sifat dari jiwa manusia itu sendiri. Jiwa manusia memiliki dua kecenderungan yang saling bertentangan. Ia cenderung pada kefasikan dan juga ketakwaan. Untuk memenangkan satu kecenderungan adalah bagaimana manusia mengarahkan dengan akalnya (ilmu). Puasa merupakan salah satu jalan agar kita dapat memenangkan kecenderungan takwa bagi jiwa. Rasa lapar dapat meruntuhkan emosi jiwa dan memudahkan manusia untuk bersegera menuju ketaatan.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. ” (as-Syams: 8-10)
4. Mengenal kadar kenikmatan
Kegiatan makan yang rutin dilakukan setiap hari menjadikannya sebagai aktivitas biasa saja. Sehingga ketika kita disuruh bersyukur, kita kurang bisa mengerti dan menghayati seperti apa rasa syukur itu. Dengan puasa, kegiatan makan dibatasi. Saat berbuka tiba, segelas teh manis hangat begitu terasa nikmatnya. Dengan demikian, kita akan menyadari betapa makanan adalah karunia besar dari Allah yang patut kita syukuri. Selain itu, ketika kita puasa, kita kelaparan, teringatlah kita dengan orang-orang yang kesusahan bahkan untuk makan sehari-hari. Dari situ kita akan merasakan kasih sayang Allah yang besar kepada kita dalam bentuk rezeki “masih bisa makan lebih baik” dari orang lain. Hal ini bisa menjadikan kita lebih peka (bersyukur) lagi terhadap nikmat-nikmat Allah lainnya yang bahkan kita takkan sanggup menyebutkannya satu persatu.
Senin, 01 Agustus 2011
Bercermin pada Kekurangan
Maha Suci Allah yang menciptakan alam ini dengan sempurna. Begitu sempurnanya, terkadang tidak disadari bahwa kesempurnaan itu dibangun dengan suatu keterbatasan. Perhatikan alat indra manusia:
Mata hanya bisa melihat cahaya pada panjang gelombang cahaya tampak 380 s.d 700 nm. Bayangkan seandainya mata ini dapat melihat pada seluruh panjang gelombang, betapa pusing dan bingungnya kita saat berjalan. Karena di hadapan kita bertebaran segala macam jenis cahaya infra merah, ultraviolet, sinar a, g, b dan gelombang-gelombang mikro.
Mata manusia juga terbatas tidak dapat melihat secara langsung benda-benda mikroskopis. Seandainya bisa, mungkin kita akan mual karena terlihat oleh kita bermacam jenis bakteri dan virus dengan bentuk yang aneh dan menjijikkan berterbangan di udara, seratus atau dua ratusnya mampir atau menempel di kulit kita.
Telinga manusia terbatas hanya bisa mendengar suara pada rentang 20 Hz s.d 20 KHz, bersyukurlah karena kita tidak diberi pendengaran supersonik yang akan membuat kita selalu terjaga di malam hari. Bermacam suara akan terdengar oleh kita, mulai dari desisan cicak di dinding, suara tetesan air dari keran kamar mandi, sampai dengan obrolan sejumlah orang di belahan dunia lain. Terlebih lagi bagi orang-orang yang mempelajari sains yang secara sadar ataupun tidak, otaknya selalu berdzikir karena setiap hari mengkaji hasil ciptaan-Nya. Seharusnya hal ini menambah keimanan dalam hati, namun terkadang diri kita sering mengabaikan tanda-tanda kebesaran-Nya.
(pindahan dari blog wodpress saya yang sudah lupa passwordnya)
Selasa, 14 Juni 2011
Ciri-Ciri (calon) Penghafal Quran
Lama tak menari jemari ini tuk berbagi di sini. Begitu banyak hikmah yang menuntut tuk disebarkan, tapi apa daya. Hehe
Sejenak mengutip dari sebagian ayatNya di Surah Maryam, "Maka sungguh telah dijadikannya (Al Quran) itu mudah bagi lisanmu." Ada kata-kata "MUDAH" di ayat itu. Berarti kata lainnya, Allah telah MENCABUT semua alasan yang mungkin jadi penyebab kita tidak/belum hapal ayat-ayatNya. Atau Allah telah mencabut alasan yang sering kita utarakan dalam melalaikan Quran.
Mungkin sering ya kita memberikan waktu untuk Quran itu hanya sekadarnya, "kalo sempet", "kalo ga sibuk", dan banyaak "kalo-kalo" yang lain. Lupakah kita kalau Quran ini petunjuk pertama dan yang utama? Lupakah kita dengan PERINTAH pertama dariNya yaitu untuk MEMBACA? Lupakah kita kalau Quran ini adalah bekal utama yang nyata?
Coba mulai saat ini, minimal kita agendakan waktu untuk bersama Quran dalam kegiatan rutin kita, seperti halnya kita rutin shalat, makan, mandi, dan sebagainya. Sibuk? Sibuk bukan alasan! Semua kita juga Allah beri kesibukan, tetapi banyak saudara kita yang komitmen membersamai Quran. Catat ini dalam hati kita, kalau bukan Quran yang kita baca, bukan pada Rasulullah kita menempatkannya sebagai idola, dan bukan pada Allah kita menghamba. maka surga itu cuma mimpi bagi kita.
Lho, kayaknya 'melenceng' dari judul ya? Yah ga apa-apa lah, kan mengingatkan tentang URGENSI Quran, hehe.
Kembali ke judul, dipaparkan oleh ustaz Abdul Aziz Abdur Rauf tentang ciri dari orang yang berbakat menghapal Quran. Berikut ciri-cirinya menurut beliau:
1. Siap berlama-lama membaca al Quran
Kita siap meraih pahalanya. Begitu asyik melantunkannya. Hanyut dalam kisah-kisahnya. Menderu rindu dengan janjinya. Merengkuh cahayanya. Dan yang lainnya masih banyak lagi yang bisa digapai disaat kita berlama-lama bersama al Quran.
2. Senang dan termotivasi setiap kali mendengar taujih al Quran
Kita senantiasa senang mendengar taujih al Quran, sebagaimana para jin begitu senang mendengar taujih robbani ini.
Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (QS. Jin: 1)
3. Senang mendengar bacaan al quran
Rasulullah begitu ingin mendengarkan ayat-ayat yang dilantunkan orang lain. Hal ini sebagaimana terungkap dalam hadits,
Dari Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Bacakan Al Quran kepadaku.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Al Quran kepada baginda, sedangkan kepada bagindalah Al Quran diturunkan?” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku.” Kemudian aku membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).” Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Sahih Muslim No: 1332)
Imam Nawawi berkata “Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Al Quran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri.”
4. Menetapkan waktu wajib bersama al Quran
Kita terkadang lupa atau memang dilupakan?! Makan kita teratur, jam kerja apalagi. Jam istirahat tentu saja. Atau aktifitas lainnya, ya semua sudah ada agendanya. Namun, dalam aktifitas harian kita, apakah kita sudah menetapkan jam wajib bersama al Quran?! Ya kita tetapkan mulai detik ini jam wajib bersama al Quran.
5. Senang berteman dengan penghafal al Quran
Sangat populer buat kita ungkapan orang Arab, bila kita berteman dengan tukang pandai besi kita akan terkena hitam dan percikan besi tersebut. Dan bila berteman dengan tukang minyak wangi, kita pun ikut kecipratan wanginya. Apatah lagi, kita akan tentram, sejuk, tenang dan perasaan damai bila bergaul dengan para penghafal al Quran yang Allah ditinggikan derajatnnya.
6. Banyak ibadah supaya mendapatkan kemudahan menghafal al Quran
Diantara penyebab kenapa seseorang begitu sulit menghafal al Quran, bisa jadi karena ibadahnya bolong-bolong atau kurang. Karena semakin banyak ibadah seseorang, tentunya ia semakin dekat dengan Allah dan semakin dekat pula segala pertolongan-Nya.
7. Sangat iri (ghibthoh) dengan yang hafal al Quran
Pernahkan terbersit dalam jiwa kita perasaan ini terhadap para hafizhul Quran? bila jawabannya ya, yakinlah kita sebentar lagi menyusul dan menyertai mereka.
8. Banyak doa untuk menjadi hafidzul quran
Seorang mukmin hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dimanapun dan kapanpun ia berada sebagaimana Allah berfirman:
“dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka seseungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Rabbmu itu Mahapemalu dan Mahamulia, malu dari hambaNya jika ia mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangan-nya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, di-hasan-kan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Albani)
Ibarat anak kecil yang merengek meminta uang jajan pada orangtuanya, semakin merengek orang tua akhirnya mengabulkan permintaan anaknya. Apalagi kita memohon terus menerus, siang malam agar menjadi hafizhul quran, tentunya Allah Maha Luas Hamparan Karunia-Nya.
9. Senang dengan qiyamul lail yang panjang
Maha benar Firman Allah Swt,
“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (QS. Al Insan: 26)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (QS. Al Isra’: 79-80)
“Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzzammil: 2-6)
10. Banyak menghatamkan al Quran
Disebutkan bahwa Imam Ahmad terkenal dengan hafalannya yang kuat. Kenapa demikian, karena ternyata selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al Quran sebanyak 7000 kali!!. Pertanyaan buat kita, apabila usia kita sekarang 40 tahun sudah berapa kali khatam. Kalau diambil minimalnya, satu bulan 1 kali berarti kita hanya sampai 40X12=480, ya hanya 480 kali!. Bagaimana bila bolong-bolong dalam satu bulan tidak sampai khatam?!
11. Berusaha tetap bersama al Quran meski sedang malas
Orang yang terbiasa membaca al Quran, ia akan tetap membaca al Quran meski sedang malas (futur). Ibarat olahragawan yang biasa rutin mengelilingi lapangan stadion sepuluh kali, disaat malas ia tetap berlari mengelilingi stadion meski tiga putaran saja. Artinya ia masih tetap melaksanakan, jangan sampai tidak sama sekali.
12. plus; JANGAN BANYAK ALASAN UNTUK TIDAK MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QURAN
Panjang ya? Namun, semoga tetap menyemarakkan semangat tuk meraih nikmat bersama Quran. "Kita siap meraih pahalanya. Begitu asyik melantunkannya. Hanyut dalam kisah-kisahnya. Menderu rindu dengan janjinya. Merengkuh cahayanya. Dan yang lainnya masih banyak lagi yang bisa digapai disaat kita berlama-lama bersama al Quran."
http://www.fazri91.co.cc/2011/05/oleh-oleh-dari-lembang-ciri-ciri-calon.html
Senin, 18 April 2011
Berita (Bisa) Bohong
Hati-hati menyebar berita. Hati-hati mendengar berita.
Berita dalam kehidupan masyarakat saat ini telah dikemas dalam berbagai produk, dalam berbagai variasi dan corak yang sangat luas dan terus berkembang. Hal yang penting mendapat perhatian adalah, berita tidak boleh disuguhkan dengan prinsip dan cara-cara yang melanggar etika. Di antara etika dalam kaitannya dengan informasi adalah prinsip keadilan, kebenaran, kejujuran, serta ketepatan. Berita harus disampaikan secara benar, tidak mengandung fitnah atau hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran.
Allah telah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil” (Al Ma’idah: 8).
Berita harus dikemas secara adil, sebagaimana Al Qur’an telah memerintahkan agar berlaku adil:
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (Al Ma’idah: 8).
Berita harus disampaikan secara jujur, tidak mengandung kebohongan atau hal yang dibuat-buat dan diada-adakan, semata-mata karena ingin membuat sensasi dan meraih keuntungan pasar. Rasulullah saw telah bersabda:
“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu menghantarkan kepada surga. Seseorang membiasakan dirinya dengan kejujuran sehingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan dusta membawa kepada keburukan dan keburukan menghantarkan kepada neraka. Seseorang membiasakan diri dengan dusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta” (riwayat Bukhari dan Muslim).
Islam sangat memperhatikan nilai berita, dan sejak dahulu dikenal memiliki tradisi ilmiah yang mengagumkan dalam penyuguhan informasi. Islam mengenal kedisiplinan dalam jalur riwayat, yaikni dengan adanya syuruthur rawi dan amanatun naqli. Rawi, yaitu orang yang membawa berita atau informasi, dikenakan beberapa syarat, seperti al ‘adalah (berkelakuan baik), adh dhabth (kuat ingatan), salim minasy syudzudz wal ‘illah (tidak ada keanehan dan kecacatan dalam beritanya).
Demikian pula tradsisi amanatun naqli yakni sebentuk kejujuran ilmiah dalam hal mencatat pendapat atau interpretasi yang dikemukakan oleh seorang mujtahid. Dengan tradisi ilmiah seperti ini akan mempersempit kemungkinan manipulasi pendapat, sebab setiap pendapat dapat dilacak sampai sumber asalnya.
Tradisi ilmiah ini akan menjauhkan diri dari qala wa qila (katanya-katanya) dalam menyerap dan menerima berita, tidak sebagaimana banyak berita yang berkembang di media massa pada umumnya yang tidak memiliki kedisiplinan ilmiah dalam pengambilan data.
Penilaian atas kualitas pembawa berita merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban ilmiah atas validitas sebuah berita. Demikian pula, kebersambungan sanad periwayatan, memungkinkan berita terjaga keasliannya, bukan dengan perkiraan atau rekayasa bahasa. Kita mengenal ada hadis dengan derajat sahih, karena diriwayatkan oleh orang-orang yang dipercaya, baik akhlaqnya, kuat ingatannya, juga bersambung jalur periwayatannya. Kita mengenal hadits dengan derajat hasan karena diriwayatkan oleh orang yang kurang kuat ingatannya. Juga ditemukan istilah hadits dhaif atau lemah karena diriwayatkan oleh orang yang tidak baik perilakunya, atau memiliki catatan dalam akhlaq.
Inilah prinsip ilmiah dalam penilaian berita. Kita bisa melacak dari sejarah kenabian, bahwa pernah terjadi informasi bohong yang mendiskreditkan Ummul Mukminin Aisyah Ra. Pada waktu itu, media penyebaran informasi hanyalah dari mulut ke mulut, dan belum berkembang teknologi informasi sebagaimana hari ini. Kita bisa membayangkan bagaimana kacau dan keruhnya suasana jika berita bohong semacam itu terekspos besar-besaran di mediua massa. Pengaruhnya akan sangat hebat di masyarakat. Allah sampai memberikan teguran atas peristiwa tersebut:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu” (An Nur:11).
Berita bohong tersebut dibawa oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafik, untuk menjatuhkan wibawa keluarga Nabi Allah dengan cara-cara yang amat hina. Akan tetapi justru karena adanya berita bohong tersebut pada akhirnya akan menyingkap hakikat kesucian dan kemuliaan Aisyah di hadapan Allah, maka berita bohong itupun berbalik menjadi sebuah kebaikan. Akan tetapi Allah menegur sikap beberapa kalangan kaum muslimin yang mendapatkan berita bohong tersebut:
“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata” (An Nur: 12).
“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar” (An Nur: 16).
Ayat-ayat di atas memberikan sebuah tuntunan perilaku bagi masyarakat, apabila menerima sebuah berita hendaklah mereka kritis dan tidak terjebak dalam sensasi murahan. Pada contoh kisah berita bohong tersebut, ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Pertama, adanya kenyataan bahwa orang-orang dengan kebaikan sekaliber Ummul Mukminin Aisyah saja bisa mendapatkan fitnah dengan kebohongan yang sangat keji. Artinya, pemberitaan menyangkut pibadi seseorang bisa jadi merupakan pembunuhan karakter yang dilakukan dan direkayasa oleh kelompok tertentu untuk maksud-maksud tertentu.
Kedua, bahwa masyarakat di zaman Nabi juga memiliki peluang untuk terpedaya oleh adanya berita. Perhatikan teguran keras dari Allah berikut:
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal itu di sisi Allah adalah besar” (An Nur: 15).
Ayat di atas memberikan teguran dan sekaligus tuntunan moral yang amat agung tentang bagaimana mensikapi pemberitaan. Masyarakat harus cermat menangkap berita, dan tidak cepat menyebarluaskan berita hanya karena ada sensasi di dalamnya, tanpa melakukan klarifikasi terhadap apa yang sesungguhnya terjadi. Realitas masyarakat kita dewasa ini, opini dan persepsi mereka dibentuk oleh media massa, sementara sajian dalam media massa tersebut belum bisa dipastikan validitasnya.
Apabila berita bohong, gosip, isu dan lain sebagainya yang tidak jelas serta tidak memiliki sandaran kebenaran, disebarkan lewat media informasi cetak maupun elektronik, akan punya peluang memakan korban yang banyak untuk saat ini. Masyarakat menelan berita yang didapatkan dari berbagai media, untuk kemudian membentuk persepsi, opini bahkan sikap dan perilakunya. Jika tidak berhati-hati, akan mudah terjebak ke dalam tuduhan kepada seseorang atau sekelompok orang padahal berita tersebut penuh kebohongan.
Maka mari berhati-hati…. Banyak berita simpang siur di sekitar kita, tentang apa saja. Tentang artis, tentang selebritis, tentang politisi, tentang pejabat….
Ternyata berkembang pula berita sekitar dakwah, tentang qiyadah, tentang keluarga qiyadah, dan berbagai sepak terjang mereka. Berkembang pula berita tentang rapat, pertemuan, musyawarah yang semestinya tidak boleh beredar, karena bukan konsumsi publik.
Jika tidak berhati-hati, akan membawa dampak keterpecahan kesatuan dan kohesivitas dalam dakwah. Bisa memunculkan kegoyahan kepercayaan kepada qiyadah, dan kepada sesama aktivis dakwah. Tanpa harus mencari-cari siapa yang bersalah, namun semua pihak harus melakukan introspeksi agar lebih proporsional dan bijak dalam mensikapi sebuah berita.
Karena, berita bisa juga bohong……
Kamis, 03 Februari 2011
pernah ada masa-masa
pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”
maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”
padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan
maka seolah aku telah membiarkan
orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-
dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita
hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-
kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal
maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”
“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr
dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”
tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda
“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”
‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”
lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang
ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..
(salim a. fillah)
----------------------------------
"di sini kita pernah bertemu,
mencari warna seindah pelangi,
ketika kau mengulurkan tanganmu,
membawaku ke daerah yang baru,
dan hidupku kini ceria,
Kini dengarkanlah...
Dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman...
Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu
Kenangan bersamamu...
Tak kan ku lupa walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa..." untukmu teman-brother
syair ini mengalun lembut dalam hatiku semenjak pagi,
berulang terlantun seiring langkah,
rihlah bersama, sebagai tanda perpisahan dua sahabat kami,
berbagi bekal, hadiah, tausyiah, dan curahan hati,
sesekali tergelak tawa, sesekali mengharu biru.
Sabtu, 22 Januari 2011
I Wish I Could
“Jika anda mendengar adzan segeralah lakukan shalat walau bagaimanapun kesibukan anda. Bacalah Al-Qur’an, lakukanlah pengkajian, dengarlah pengajian dan berzikirlah. Jangan sia-siakan waktu anda untuk persoalan yang tidak berguna. Berusahalah membiasakan berbicara dengan bahasa Arab standar karena bahasa Arab standar merupakan salah satu syiar Islam. Jangan memperbanyak perdebatan dalam semua urusan walau bagaimana pun keadaannya, sebab pertengkaran tidak akan mendatangkan perbaikan. Jangan banyak tertawa, karena orang yang selalu berhubungan dengan Allah bersifat tenang dan serius. Jangan banyak bergurau, sebab umat yang berjihad hanya mengenal keseriusan. Jangan bersuara keras melebihi yang diperlukan pendengar karena hal itu selain menyakitkan juga termasuk perbuatan bodoh. Jangan mengumpat seseorang, jangan merendahkan lembaga-lembaga Islam dan jangan berbicara kecuali dalam kebaikan. Berkenalanlah dengan saudara dan teman-teman yang Anda jumpai meski pun Anda tidak diminta memperkenalkan diri sebab dasar dakwah kita adalah kasih sayang dan persaudaraan. Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang Anda miliki, maka bantulah orang lain supaya memanfaatkan waktunya. Kalau Anda berurusan persingkatlah pelaksanaannya”.
(As Syahid Hasan Al-Banna)