Selasa, 04 Januari 2011

Gonggongan Anjing Galak

Sore itu aku dan adikku menuju Rumah Makan Padang. Kami berjalan menyusuri komplek perumahan. Pada gang pertama semestinya kami berbelok untuk mendapatkan jarak yang pendek, tapi kami sepakat berbelok di gang berikutnya saja karena kami tahu di gang pertama terdapat sebuah rumah dengan anjing galak begitu kata orang. Setiap orang yang lewat rumah tersebut pasti digonggong oleh anjing ini. Sebenarnya ia hanya bisa menggonggong saja takkan mengejar apalagi melukai karena ia diikat di dalam teras oleh pemiliknya. Tapi rasa takut kalau-kalau anjingnya lepas dan mengejar menyebabkan kami menempuh jarak yang lebih panjang.

Usai dari Rumah Makan Padang, aku mengusulkan untuk lewat gang pertama saja supaya lebih cepat, nampaknya adikku juga sudah malas berjalan jauh sehingga ia setuju. Aku menutup telinga saat melewati tempat itu sambil sesekali bertanya pada adikku apakah ada anjing galaknya hingga sampailah kami di ujung gang dan tidak ada suara gonggongan anjing. Adikku mengatakan bahwa anjing tadi sedang bersama pemiliknya sehingga tidak menggonggong, lega rasa hatiku.

Kenapa mesti takut? Tentu karena aku teringat pengalaman saat kecil dulu apabila berjalan melewati gang itu, aku dan teman-temanku lari terbirit sambil berteriak-teriak. Pasti karena kehebohan ini yang menyebabkan anjing tersebut malah semakin semangat menggonggong.

Inilah dia belenggu. Pengalaman buruk dan pendapat yang negatif bisa menjadi belenggu dalam langkah kita, mempengaruhi dan menghambat. Kalau gonggongan anjing diibaratkan sebagai belenggu dan teriakan sebagai rasa takut, maka semakin takut, semakin besar belenggu dalam diri. Semakin berteriak, semakin besar gonggongan anjing. Jadi, untuk mengatasi gonggongan, jangan teriaki ia. Berjalanlah biasa dan santai. Apabila ia mengonggong, biarkan saja hingga tanpa kita sadari kita telah tiba di tempat tujuan. Di situ kita bisa membuktikan gonggongan hanyalah sekedar gonggongan.

nb : ribet deh tapi semoga paham maksudnya

Selasa, 21 Desember 2010

TAMARNO

Karena ujian sekolah telah usai, maka Ibu pulang lebih cepat dan mengajakku menjenguk Pakde yang sedang dirawat di RS Islam Cempaka Putih. Setelah berembug berdua saja, kami memutuskan membawa buah tangan berupa parcel buah. Untuk mendapat kualitas yang bagus Ibu mengusulkan membeli buahnya di swalayan, kata Ibu buahnya bisa memilih sendiri dan nanti akan dibuatkan parcel oleh pegawai swalayannya.

Selesai memilih keranjang dan buahnya, Ibu mengajakku berkeliling melihat-lihat harga buah. Semuanya menggiurkan, beraneka macam jenis apel, jeruk, anggur, naga, pisang, dan pear tertata cantik di rak. Ibu sesekali bergumam kepadaku mengagumi buah-buah yang menarik hatinya.

Lalu tibalah pada sebuah kotak berisi manisan buah asam atau nama ilmiahnya tamarind sebagaimana tertulis di atas rak buah. "mmm, kapan-kapan beli ini ya, Ibu jaman dulu kalau angin lebat di bawah pohon asem suka banyak asem yang jatuh, terus dikulum, enak lho"
"kan asem Bu?" komentarku.
"Iya asem-asem manis, enak. Berapa harganya?" Ibu kemudian melihat ke papan harga, tiba-tiba Ibu berkata sambil brlalu ke rak buah yang lain"Oh namanya TAMARNO"

Aku bingung, kok tamarind dibaca tamarno? Aku menyadari sebabnya. Karena Aku sudah lebih tahu nama ilmiah asam itu tamarind, jadi tidak keliru membacanya atau lebih tepatnya tidak menaruh perhatian dengan tulisan itu karena dari huruf awal, aku sudah menyimpulkan kalautulisan itu pasti berbunyi tamarind.

Lalu Aku mengamati tulisan TAMARIND itu, ternyata memang terbaca seperti TAMARNO karena huruf I nya menempel ke huruf N dan huruf D nya seperti huruf O.
"Tamarind Bu bukan tamarno." Kataku.

jdai ignat sautu penjleaasn klaau oatk ktia tiadk mmebcaa sbeuah ktaa hruuf per huurf, tapi huruf awal dan akhirnya. Tidak peduli apakah huruf-huruf di tengahnya berantakan, asalkan huruf awal dan akhir benar, ktia tteap bsia membacanya. Bhkan kalau ad hruf yang hilangpun kita mngrti mksudny ;D kayak tulisn di sms gt dh.