Minggu, 20 Februari 2011
Qolam 5
Kamis, 03 Februari 2011
pernah ada masa-masa
pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”
maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”
padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan
maka seolah aku telah membiarkan
orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-
dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita
hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-
kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal
maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”
“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr
dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”
tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda
“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”
‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”
lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang
ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..
(salim a. fillah)
----------------------------------
"di sini kita pernah bertemu,
mencari warna seindah pelangi,
ketika kau mengulurkan tanganmu,
membawaku ke daerah yang baru,
dan hidupku kini ceria,
Kini dengarkanlah...
Dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman...
Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu
Kenangan bersamamu...
Tak kan ku lupa walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa..." untukmu teman-brother
syair ini mengalun lembut dalam hatiku semenjak pagi,
berulang terlantun seiring langkah,
rihlah bersama, sebagai tanda perpisahan dua sahabat kami,
berbagi bekal, hadiah, tausyiah, dan curahan hati,
sesekali tergelak tawa, sesekali mengharu biru.
Minggu, 30 Januari 2011
Sabtu, 29 Januari 2011
Sabtu, 22 Januari 2011
I Wish I Could
“Jika anda mendengar adzan segeralah lakukan shalat walau bagaimanapun kesibukan anda. Bacalah Al-Qur’an, lakukanlah pengkajian, dengarlah pengajian dan berzikirlah. Jangan sia-siakan waktu anda untuk persoalan yang tidak berguna. Berusahalah membiasakan berbicara dengan bahasa Arab standar karena bahasa Arab standar merupakan salah satu syiar Islam. Jangan memperbanyak perdebatan dalam semua urusan walau bagaimana pun keadaannya, sebab pertengkaran tidak akan mendatangkan perbaikan. Jangan banyak tertawa, karena orang yang selalu berhubungan dengan Allah bersifat tenang dan serius. Jangan banyak bergurau, sebab umat yang berjihad hanya mengenal keseriusan. Jangan bersuara keras melebihi yang diperlukan pendengar karena hal itu selain menyakitkan juga termasuk perbuatan bodoh. Jangan mengumpat seseorang, jangan merendahkan lembaga-lembaga Islam dan jangan berbicara kecuali dalam kebaikan. Berkenalanlah dengan saudara dan teman-teman yang Anda jumpai meski pun Anda tidak diminta memperkenalkan diri sebab dasar dakwah kita adalah kasih sayang dan persaudaraan. Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang Anda miliki, maka bantulah orang lain supaya memanfaatkan waktunya. Kalau Anda berurusan persingkatlah pelaksanaannya”.
(As Syahid Hasan Al-Banna)
Selasa, 18 Januari 2011
Senam Mata untuk Relaksasi
Tanpa kita sadari beragam aktivitas kita seringkali 'menyiksa' mata kita, misalnya, bekerja di depan komputer tanpa beristirahat, atau membaca dengan posisi tubuh yang tidak tepat. Hal-hal tersebut membuat mata kita tidak rileks. Akibat yang paling sering terjadi adalah mata terasa perih karena iritasi. Selain itu, mata bisa menjadi merah. Akibat lainnya, mata menderita rabun jauh atau dekat. Ketegangan otot di kelopak mata juga dapat mengakibatkan pergeseran bola mata. Lebih gawat lagi, bisa berakibat katarak.
Untuk meredakan kelelahan mata, Anda dapat menggunakan telapak tangan. Caranya, letakan telapak tangan di masing-masing mata, lalu silangkan jari-jari kedua tangan satu sama lain. Setelah kedua mata tertutup oleh telapak tangan dan tak ada cahaya yang masuk melalui sela-sela jari, biarkan mata terbuka. Tahan posisi itu beberapa saat dan pastikan, Anda benar-benar melihat kegelapan. Lakukan ini beberapa kali sehari.
Selain mengistirahatkan mata sejenak di sela-sela aktivitas, Anda juga dapat merawat kedua mata Anda dengan melakukan senam mata. Berikut adalah latihan yang dapat Anda lakukan:
1. Pijat daerah bawah kedua mata menggunakan jari tengah
2. Tekan sedikit dan rasakan otot-otot mata yang kaku (jika baru pertama kali mencoba, jangan terlalu berlebihan karena dapat menyebabkan nyeri kepala)
3. Kemudian, beralih pada tulang atas mata. Berikan pijatan beberapa kali
4. Pijat bagian urat-urat yang kaku di bagian atas mata dekat hidung, lalu arahkan ke sudut mata dan pijat perlahan. Lalu pindah ke otot-otot di bagian atas alis.
Lakukan hal-hal di atas secara rutin. Lalu, yang terpenting, jangan 'menyiksa' mata Anda dengan memforsirnya tanpa beristirahat.