Senin, 16 Januari 2012

Ahsanu Amalaa

Amal terbaik, amal unggulan. Apa amal unggulanmu? Apa amal terbaikmu? Bisa ibadah tertentu yang konsisten dijalankan, bisa juga berupa kesempatan melakukan kebaikan yang menghampirimu.

Apakah amal unggulanmu shaum sunnah? ayamul bidh? senin kamis?
Apakah muhasabah setiap menjelang tidur? 
Apakah shalat malam?
Apakah membaca Al-Qur'an?
Sudah konsistenkah?

atau

Saat kau berjalan dan menemukan rintangan berupa batu yang mengganggu pejalan kemudian Engkau singkirkan?
Engkau orang yang persuasif? kemudian memanfaatkan kepiawaianmu mengajak orang kepada kebaikan?
Engkau pandai menulis kemudian mempengaruhi orang untuk menjadi lebih baiklewat tulisan2mu?
Engkau membantu seseorang yang tersesat di jalan?
Engkau berlebihan nafkah dan berkesempatan bersedekah lebih banyak?
Sudahkah kau ambil kesempatan2 itu? Atau kau biarkan ia lewat begitu saja?

Di dalam kubur, tempat istirahat kita, tempat menunggu kita, tempat yang pasti kita singgahi adalah tempat yang gelap dan sempit. Dengannya kubur kita bisa menjadi lapang, luas, dan terang. Hanya amal yang akan menjadi teman sejati. 

Semoga Allah memampukan kita untuk mampu melakukan amalan terbaik dan teguh di dalamnya.


"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" Al-Mulk;2

Rabu, 11 Januari 2012

Belajar dan Mengajar

Ada yang request bagaimana sih rasanya jadi guru? Heheu gimana ya? Ada senang dan tidaknya. Yang pasti melihat tingkah anak usia SMA, bikin senyum2. Apalagi kalau membaca status2 mereka d fb yang 'galau'.
Baiklah, biar gak sia-sia ni nge-postnya, saya share pengalaman, apa2 aja sih yang biasanya saya (yang seorang pemula dan bukan dari latar belakang keguruan) lakukan.
Hal pertama adalah persiapan sebelum masuk kelas (scr administrasi ada RPP-rencana pelaksanaan pembelajaran). Tertekan asli. Kita mesti njelasin konsep materi. Jadi mesti benar2 paham dan berusaha bisa 'bagaimana menyampaikan ke murid agar ketika saya menerangkan warna merah, maka warna merahlah yang mereka tangkap, bukan warna lain'.
Biasanya kelas pertama akan menjadi laboratorium percobaan. Setelah masuk kelas pertama maka kita akan menemukan misalnya kekurangan kita saat menyampaikan materi dan bagaimana seharusnya yang tepatnya. Nah, ketika masuk kelas berikutnya dengan materi yang sama, sudah lancar.
Kalau materinya ganti lagi, kan mesti persiapan awal lagi?! Biasanya tertekan lagi. Maklum baru pertama ngajar di kelas formal.
Kedua, kondisi kelas. Kondisi pagi, siang, dan sore berbeda. Apakah mereka masih fresh atau sudah jenuh? Ada kalanya ketika kita berbicara mereka ikut bicara. Jadi, biasanya kalau sudah begitu, saya akan mencatat poin penting terlebih dahulu di papan tulis, setelah itu saya diam menyapu pandangan ke seluruh kelas untuk mendapatkan atensi, kemudian berkata semacam ini "tolong beri waktu saya 15 menit saja menjelaskan, bisa?" saya ulangi pertanyaan bisa? Sampai semua anak menjawab bisa. Barulah saya menjelaskan. Setelah menjelaskan, saya beri tugas atau latihan, jadi mereka sibuk dengan tugas atau latihan itu.
Cukup dulu untuk share-nya, saya harus siap2 masuk kelas lagi =D.
Oiya, last but not least:
Tidak semua murid punya motif/tujuan yang sama saat pergi ke sekolah.

Senin, 09 Januari 2012

Siapa Mau Jadi Hafizoh?

Alhamdulillah, Ahad kemarin (8/01) saya dan kawan-kawan kesampaian juga jaulah ke Pesantren Ummu Habibah di daerah Benda Tangerang. Hmm, seneng dan sekaligus miris (miris terhadap diri sendiri sih). Jadi, saat berbincang dengan Teh Ipun, putri alm.Ustz Yoyoh yusroh, beliau mengatakan sedang kekurangan staf pengajar. Syarat awalnya adalah hafal Qur’an 30 juz (saat beliau menyebutkan ini, saya dan salah seorang teman saling berpandangan dan tersenyum penuh arti ‘astaghfirullah, menyedihkannya kami’). Kemudian beliau berkata, karena sekarang cukup jarang akhwat hafizoh, standarnya diturunkan yang penting sayang dengan anak2 dan hafal minimal 10 Juz (saat beliau berkata demikian, kembali kami saling berpandangan penuh arti ‘Innalillahi, sangat menyedihkannya kami’).

Pesantren ini memang khusus mencetak hafizoh usia SD. Pesantren ini hanya menerima kelas 1 s.d 6 sekolah dasar. Satu kelas berisi 20 anak. Kebetulan di sana memang sedang ada acara dari Salimah Tangerang yang dipimpin oleh Ibu Syarifah. Acaranya adalah penyantunan anak yatim dan janda di sekitar pesantren. Jadi, kami bisa melihat perform yang dipersembahkan oleh adik-adik calon hafizoh ini. Hmm, senangnya melihat mereka berpakaian lengkap (pakaian muslimah, kerudung, dan juga kaos kaki) meskipun masih kecil2. Anggun dan lucu2 =). Masya Allah, malu deh kalau mengingat syarat menjadi pembimbing di sana. Insya Allah termotivasi untuk lebih baik, tetapi hmm berat banget. Hal semacam ini harus senantiasa dilakukan untuk meng-upgrade lemahnya motivasi.

Jadi ingat salah satu percakapan di Film Hafalan Shalat Delisa, kurang lebih seperti ini.

Delisa: Ustad Rahman, kenapa sih Delisa gak bisa hafal-hafal bacaan sholatnya?

Ust. Rahman: Karena Delisa menghafal untuk mendapatkan hadiah (kalung emas), makanya sulit dan berat.

Penonton (saya): * tertohok sekali.


di aula

kawan

perform

perform