Selasa, 14 Juni 2011

Ciri-Ciri (calon) Penghafal Quran



Lama tak menari jemari ini tuk berbagi di sini. Begitu banyak hikmah yang menuntut tuk disebarkan, tapi apa daya. Hehe



Sejenak mengutip dari sebagian ayatNya di Surah Maryam, "Maka sungguh telah dijadikannya (Al Quran) itu mudah bagi lisanmu." Ada kata-kata "MUDAH" di ayat itu. Berarti kata lainnya, Allah telah MENCABUT semua alasan yang mungkin jadi penyebab kita tidak/belum hapal ayat-ayatNya. Atau Allah telah mencabut alasan yang sering kita utarakan dalam melalaikan Quran. 


Mungkin sering ya kita memberikan waktu untuk Quran itu hanya sekadarnya, "kalo sempet", "kalo ga sibuk", dan banyaak "kalo-kalo" yang lain. Lupakah kita kalau Quran ini petunjuk pertama dan yang utama? Lupakah kita dengan PERINTAH pertama dariNya yaitu untuk MEMBACA? Lupakah kita kalau Quran ini adalah bekal utama yang nyata?


Coba mulai saat ini, minimal kita agendakan waktu untuk bersama Quran dalam kegiatan rutin kita, seperti halnya kita rutin shalat, makan, mandi, dan sebagainya. Sibuk? Sibuk bukan alasan! Semua kita juga Allah beri kesibukan, tetapi banyak saudara kita yang komitmen membersamai Quran. Catat ini dalam hati kita, kalau bukan Quran yang kita baca, bukan pada Rasulullah kita menempatkannya sebagai idola, dan bukan pada Allah kita menghamba. maka surga itu cuma mimpi bagi kita.


Lho, kayaknya 'melenceng' dari judul ya? Yah ga apa-apa lah, kan mengingatkan tentang URGENSI Quran, hehe.


Kembali ke judul, dipaparkan oleh ustaz Abdul Aziz Abdur Rauf tentang ciri dari orang yang berbakat menghapal Quran. Berikut ciri-cirinya menurut beliau:


1. Siap berlama-lama membaca al Quran
Kita siap meraih pahalanya. Begitu asyik melantunkannya. Hanyut dalam kisah-kisahnya. Menderu rindu dengan janjinya. Merengkuh cahayanya. Dan yang lainnya masih banyak lagi yang bisa digapai disaat kita berlama-lama bersama al Quran.

2. Senang dan termotivasi setiap kali mendengar taujih al Quran
Kita senantiasa senang mendengar taujih al Quran, sebagaimana para jin begitu senang mendengar taujih robbani ini.
Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (QS. Jin: 1)

3. Senang mendengar bacaan al quran
Rasulullah begitu ingin mendengarkan ayat-ayat yang dilantunkan orang lain. Hal ini sebagaimana terungkap dalam hadits,

Dari Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Bacakan Al Quran kepadaku.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Al Quran kepada baginda, sedangkan kepada bagindalah Al Quran diturunkan?” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku.” Kemudian aku membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).” Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Sahih Muslim No: 1332)

Imam Nawawi berkata “Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Al Quran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri.”

4. Menetapkan waktu wajib bersama al Quran
Kita terkadang lupa atau memang dilupakan?! Makan kita teratur, jam kerja apalagi. Jam istirahat tentu saja. Atau aktifitas lainnya, ya semua sudah ada agendanya. Namun, dalam aktifitas harian kita, apakah kita sudah menetapkan jam wajib bersama al Quran?! Ya kita tetapkan mulai detik ini jam wajib bersama al Quran.

5. Senang berteman dengan penghafal al Quran
Sangat populer buat kita ungkapan orang Arab, bila kita berteman dengan tukang pandai besi kita akan terkena hitam dan percikan besi tersebut. Dan bila berteman dengan tukang minyak wangi, kita pun ikut kecipratan  wanginya. Apatah lagi, kita akan tentram, sejuk, tenang dan perasaan damai bila bergaul dengan para penghafal al Quran yang Allah ditinggikan derajatnnya.

6. Banyak ibadah supaya mendapatkan kemudahan menghafal al Quran
Diantara penyebab kenapa seseorang begitu sulit menghafal al Quran, bisa jadi karena ibadahnya bolong-bolong atau kurang. Karena semakin banyak ibadah seseorang, tentunya ia semakin dekat dengan Allah dan semakin dekat pula segala pertolongan-Nya.

7. Sangat iri (ghibthoh) dengan yang hafal al Quran
Pernahkan terbersit dalam jiwa kita perasaan ini terhadap para hafizhul  Quran? bila jawabannya ya, yakinlah kita sebentar lagi menyusul dan menyertai mereka.

8. Banyak doa untuk menjadi hafidzul quran
Seorang mukmin hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dimanapun dan kapanpun ia berada sebagaimana Allah berfirman:
“dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka seseungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Rabbmu itu Mahapemalu dan Mahamulia, malu dari hambaNya jika ia mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangan-nya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, di-hasan-kan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Albani)

Ibarat anak kecil yang merengek meminta uang jajan pada orangtuanya, semakin merengek orang tua akhirnya mengabulkan permintaan anaknya. Apalagi kita memohon terus menerus, siang malam agar menjadi hafizhul quran, tentunya Allah Maha Luas Hamparan Karunia-Nya.

9. Senang dengan qiyamul lail yang panjang
Maha benar Firman Allah Swt,
“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (QS. Al Insan: 26)

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (QS. Al Isra’: 79-80)

“Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzzammil: 2-6)

10. Banyak menghatamkan al Quran
Disebutkan bahwa Imam Ahmad terkenal dengan hafalannya yang kuat. Kenapa demikian, karena ternyata selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al Quran sebanyak 7000 kali!!. Pertanyaan buat kita, apabila usia kita sekarang 40 tahun sudah berapa kali khatam. Kalau diambil minimalnya, satu bulan 1 kali berarti kita hanya sampai 40X12=480, ya hanya 480 kali!. Bagaimana bila bolong-bolong dalam satu bulan tidak sampai khatam?!

11. Berusaha tetap bersama al Quran meski sedang malas
Orang yang terbiasa membaca al Quran, ia akan tetap membaca al Quran meski sedang malas (futur). Ibarat olahragawan yang biasa rutin mengelilingi lapangan stadion sepuluh kali, disaat malas ia tetap berlari mengelilingi stadion meski tiga putaran saja. Artinya ia masih tetap melaksanakan, jangan sampai tidak sama sekali.

12. plus; JANGAN BANYAK ALASAN UNTUK TIDAK MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QURAN




Panjang ya? Namun, semoga tetap menyemarakkan semangat tuk meraih nikmat bersama Quran. "Kita siap meraih pahalanya. Begitu asyik melantunkannya. Hanyut dalam kisah-kisahnya. Menderu rindu dengan janjinya. Merengkuh cahayanya. Dan yang lainnya masih banyak lagi yang bisa digapai disaat kita berlama-lama bersama al Quran."

Sekre KARISMA ITB, 30 Mei 2011
http://www.fazri91.co.cc/2011/05/oleh-oleh-dari-lembang-ciri-ciri-calon.html

Jumat, 10 Juni 2011

Allah Pasti Memberi Jika Kita Meminta

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah nasib mereka sendiri.

Apapun yang kita cita-citakan tentu membutuhkan usaha dan doa untuk mencapainya. Ketika kita telah berusaha dan hasilnya sesuai harapan, kita patut bersyukur. 

Ketika kita tidak mampu memperolehnya, kita juga harus pandai-pandai bersyukur. Atau, jika kita lebih ahli dalam hal sabar, sabar pun merupakan kendaraan yang bagus selain syukur. Mesti ada hikmah atau sesuatu yang lain yang kita dapatkan, meskipun kita tidak tahu apa itu.

Ada sebuah hikmah yang bisa dipetik dari kisah berikut ini.
Saya tengah memutuskan untuk mendaftar menjadi tenaga pengajar atas rekomendasi kawan Ibu. Maka, saya mencoba membuat dua buah surat lamaran. Kemudian, saya berdoa semoga saya bisa diterima di salah satunya.

Saya menghubungi seorang 'adik' saya di Surabaya,"Dy, doain ya, moga aku keterima ngajar di SMK ni" kira-kira begitu salah sau penggalan sms saya.

"Ya, mba Insya Allah. Jangan menyerah. Aku aja dulu ngelamar ke 22 sekolah, barulah yang ke 22 itu aku diterima ngajar" begitu ia berkisah.

Mulanya, saya menginginkan dukungan moral darinya, tapi mengetahui angka ke-22, malah membuat saya patah harapan. Bayangkan, baru yang ke-22 ia bisa diterima? Sedangkan diri saya?

Tapi, pada akhirnya, adik saya ini tidak melanjutkan jadi guru karena ia diterima di tempat yang lebih bagus Sesuai harapan dia dan orang tuanya agar menjadi PNS saja. Ia diterima sebagai PNS di Badan Pusat Statistik (BPS). Hingga sayapun berpikir betapa beruntungnya adik saya ini. Baru lulus, kemudian tes2 berbagai ujian masuk PNS dan langsung bisa menjadi PNS.

Hikmah yang saya dapati dari kisahnya adalah...
Ya, Allah sudah pasti memberikan apa yang kita minta dan usahakan. Namun, wujudnya kadang tidak sesuai harapan kita. Karena, kita diberikan yang lebih baik lagi dari harapan itu. Hasilnya jauh lebih bagus. 

Sebagaimana usaha adik saya yang ke sana kemari melamar menjadi guru sampai ke 22 sekolah ia datangi. Bikin surat lamaran, ngeprint, fotokopi, dan mondar-mandir, tentu bukan hal yang sepele.  

Apa yang ia dapat? Allah melihat usaha dan doanya, maka Allah berikan kemudahan, bukan menjadi guru honorer, tapi langsung menjadi PNS. 

Memang benar kata Umar r.a, sabar dan syukur memang kendaraan yang bagus. Jika kita memiliki salah satu dari keduanya, kita akan menjadi orang yang beruntung.

(Hehe, maap nih, kan banyak juga yang ilfeel dengan orang2 yang ngebet pengen jadi PNS. Kisah ini cuma contoh saja, yang bisa diambil hikmahnya).

Satu Tamparan untuk Sebuah Pertanyaan

Beberapa pemuda berkumpul di bawah pohon rindang, di tengah padang rumput. Ada yang antusia mendengar, ada yang terkantuk-kantuk karena semilir angin, dan ada pula yang sibuk mencatat. Mereka mendengarkan gurunya menyampaikan sebuah pengajaran.

Sang guru menjelaskan tentang dahsyatnya siksa neraka. "takutlah kalian terhadap api neraka, yang bahan bakarnya adalah jin dan manusia."

Demi mendengar perkataan gurunya ini, salah seorang pemuda mengangkat tangannya hendak bertanya,"Guru!" katanya. 

"Ya, ada apa anakku?" 

"Bukankah jin terbuat dari api juga? Bagaimana mungkin mereka merasakan panasnya api neraka, sementara tubuh mereka terbuat dari api juga?" tanya sang pemuda. 

Sang guru tersenyum, kemudian ia melanjutkan,"kemarilah anakku, akan aku tunjukkan kepadamu sebuah jawaban."

Si pemuda maju ke hadapan sang guru. Kemudian, tanpa aba-aba, sang guru menampar pipi si pemuda. Ia kaget bukan kepalang, demikian juga kawan-kawannya. Tentu saja, ia hanya bertanya dan mengapa sang guru menampar dirinya,

"Guru, kenapa anda menampar saya? Apa kesalahan saya?" tanya si pemuda sambil mengelus pipinya yang terasa perih. 

"Sakit?" Sang guru malah balik bertanya. 

"Sakitlah, ditampar kok." Jawab si pemuda.

"Saya manusia, engkaupun juga kan anakku? Manusia terbuat dari apa?"

"Unsur tanah" jawab si pemuda lagi. 

"Ya, itu yang hendak saya tunjukkan kepadamu. saya dan kamu terbuat dari tanah. Tetapi, ketika tangan saya menampar pipimu, kamu tetap merasakan sakit juga kan anakku Demikian juga dengan siksa api neraka terhadap jin." Terang sang guru.

Senin, 16 Mei 2011

Macet

Jalan tol macet
Telat ngejar omprengan lima menit
Konsekuensi telat tiga puluh menit

Solusi?
8usway, kampanye nebeng ompreng, pelebaran jalan, s.d parkir mahal
Masih tetap macet

Penat
Pintu tol penuh sesak kendaraan
Ngantuk, gerah, lelah

Ibarat penderita stroke yang sedang kumat
Aliran darah tersendat-sendat
Karena sempit pembuluh penuh lemak menyumbat
Darah tak sanggup lewat

Ah macet..macet..
Kayak orang stroke

Kamis, 21 April 2011

Sekitar Unsoed Selayang Pandang

Violet. Salah satu tempat yang sering dikunjungi mahasiswa beberapa jurusan, terutama saat-saat UTS ataupun UAS. Kimia, Ilmu Tanah, Teknik Hasil Pertanian, dsb. Ya, lecture note, catatan terlengkap, dan diktat perkuliahan mereka dititipkan oleh koordinator kelas di tempat ini.

Wijaya. Pilihan bagi mahasiswa yang hendak menjilid laporan dan skripsi. Pengerjaan cepat, hasil bagus, dan biaya terjangkau.Mahasiswa jurusan lainnya juga menitipkan lecture note di sini (setiap jurusan memiliki tempat fotokopi favorit).

Fotokopi depan Asrama mahasiswa (biasa disebut Asput). Ada dua buah. Tempat alternatif memfotokopi KTP, KTM, berkas-berkas atau membeli alat tulis bagi mahasiswa yang tinggal di Asput ataupun mahasiswa yang kebetulan sedang mampir ke Asput. Karena Asput adalah tempat transit yang paling asik( ;D ).

Surya. Toko yang menjual kemikalia. Letaknya tepat di antara dua tempat fotokopi depan Asput. Jadi, mahasiswa yang memecahkan tabung reaksi, Erlenmeyer, dsb biasanya membeli gantinya di sini. Karena Surya adalah satu-satunya penjual alat kemikalia terdekat dengan kampus, maka terkadang harga tergantung mood penjual.

Sovia. Warnet yang berkembang cepat dan senantiasa berinovasi. Hal ini tentu karena pengelolanya mampu membaca pasar. Tempatnya nyaman. Selain melayani jasa internet dan Wi-Fi di lokasi, Sovia juga melayani pemasangan Wi-Fi di kos-kos terdekatnya.

Idaman. Warnet dengan modal besar, terlihat dari jumlah warnetnya (ada di kampus depan dan belakang), bangunan, dan jumlah unit komputernya. Bisa juga menjadi pilihan karena memiliki variasi biaya tergantung ruangan. Apakah Ac ataukah kipas angin?

Diva. Warnet ukuran medium. Warnet alternatif, jika warnet-warnet besar sudah fully booked.

Soeparno. Nama jalan. Jalan Dr. Soeparno tepatnya.

Djaelani. Nama gang.

Sumampir. Nama daerah. Dari Hr. Bunyamin ke arah Baturraden, Pabuaran belok kiri lurus terus.

Cendrawasih. Nama gang. Tembus ke Lapangan Grendeng.

Te-Ka. Swalayan kecil yang mampu mengakomodasi kebutuhan mahasiswa sekitarnya.

BK. Swalayan agak besar dan komplit. Tepat di depan gedung Pusat Administrasi.

Vandilla. CafĂ© spesialis jus. Identik dengan antrian yang selalu penuh. Untungnya semua pegawai begitu cepat dan cekatan melayani, sehingga yang mengantri tidak kelamaan dan bisa dipastikan antrian tidak akan ‘diselak’. Jusnya komplit dan pilihan menu paket makanannya juga lumayan.

Ramane. Tempat laundry. Letaknya persis di depan Vandilla.

Tantene. Resto spesialis ayam. Sambelnya menggigit, jusnya segar. Mampu menampung banyak orang. Biasa digunakan sebagai tempat berkumpul. Harga terjangkau dan tempatnya asik (saung-saung di atas kolam ikan).

Al-Fath. Tempat makan yang menyebar. Ada ukuran kecil dan sedang. Spesialis penyet. Capcaynya juga yang lumayan.

Mang Taher (Cirebon). Nasi goreng dan capcaynya TOP.

Mafaza, singkatan Masjid Fatimatuzzahra. Komplek masjid dengan banyak kegiatan. Ada PAUD, mini market, pusat bahasa, radio, klinik, dan ruang seminar. Bangunan Masjidnya sendiri besar. Senantiasa menjadi tempat persinggahan mahasiswa atau siapapun yang saat dalam perjalanan, mendapati dirinya memasuki waktu sholat. Lokasinya strategis, berada di antara kampus depan dan kampus belakang.

Nurul Ulum. Masjid kampus yang terletak di seberang Perpustakaan Pusat. Terkadang dijadikan tempat beraktivitas dan berkegiatan oleh mahasiswa. Namun, karena lokasi kurang strategis (yaitu pertigaan lampu merah yang cukup sulit menyebrang ke sana), maka hanya orang yang berniat ke Masjid ini yang akan mengunjunginya.

Baitul Ghufron. Mushola kecil di sudut Lapangan Karangwangkal. Setiap sore sekitar pukul 16.00 akan terdengar suara yang sungguh khas, suara medok seorang anak kecil yang terdengar dari TOA Mushola. Hal ini sungguh berkesan, sehingga mahasiswa dari luar daerah yang tinggal di sekitaran Mushola pasti hafal kumandang ini, ”Panggilaan ditunjukkaan kepadaaa santriwansantriwati. Diharaap segeradatang. Karenaaa waktunyasudahcukupsore. Sekali lagiii, panggilaan ditunjukkaan kepadaaa santriwansantriwati. Diharaap segeradatang. Karenaaa waktunyasudahcukupsore. Terima kasih. Wassalaaamu’alaikumwarohmatullohiii Wabarokaaatuh.”

Senin, 18 April 2011

Berita (Bisa) Bohong

Oleh : Cahyadi Takariawan

Hati-hati menyebar berita. Hati-hati mendengar berita.

Berita dalam kehidupan masyarakat saat ini telah dikemas dalam berbagai produk, dalam berbagai variasi dan corak yang sangat luas dan terus berkembang. Hal yang penting mendapat perhatian adalah, berita tidak boleh disuguhkan dengan prinsip dan cara-cara yang melanggar etika. Di antara etika dalam kaitannya dengan informasi adalah prinsip keadilan, kebenaran, kejujuran, serta ketepatan. Berita harus disampaikan secara benar, tidak mengandung fitnah atau hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran.

Allah telah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil” (Al Ma’idah: 8).

Berita harus dikemas secara adil, sebagaimana Al Qur’an telah memerintahkan agar berlaku adil:

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (Al Ma’idah: 8).

Berita harus disampaikan secara jujur, tidak mengandung kebohongan atau hal yang dibuat-buat dan diada-adakan, semata-mata karena ingin membuat sensasi dan meraih keuntungan pasar. Rasulullah saw telah bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu menghantarkan kepada surga. Seseorang membiasakan dirinya dengan kejujuran sehingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan dusta membawa kepada keburukan dan keburukan menghantarkan kepada neraka. Seseorang membiasakan diri dengan dusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta” (riwayat Bukhari dan Muslim).

Islam sangat memperhatikan nilai berita, dan sejak dahulu dikenal memiliki tradisi ilmiah yang mengagumkan dalam penyuguhan informasi. Islam mengenal kedisiplinan dalam jalur riwayat, yaikni dengan adanya syuruthur rawi dan amanatun naqli. Rawi, yaitu orang yang membawa berita atau informasi, dikenakan beberapa syarat, seperti al ‘adalah (berkelakuan baik), adh dhabth (kuat ingatan), salim minasy syudzudz wal ‘illah (tidak ada keanehan dan kecacatan dalam beritanya).

Demikian pula tradsisi amanatun naqli yakni sebentuk kejujuran ilmiah dalam hal mencatat pendapat atau interpretasi yang dikemukakan oleh seorang mujtahid. Dengan tradisi ilmiah seperti ini akan mempersempit kemungkinan manipulasi pendapat, sebab setiap pendapat dapat dilacak sampai sumber asalnya.

Tradisi ilmiah ini akan menjauhkan diri dari qala wa qila (katanya-katanya) dalam menyerap dan menerima berita, tidak sebagaimana banyak berita yang berkembang di media massa pada umumnya yang tidak memiliki kedisiplinan ilmiah dalam pengambilan data.

Penilaian atas kualitas pembawa berita merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban ilmiah atas validitas sebuah berita. Demikian pula, kebersambungan sanad periwayatan, memungkinkan berita terjaga keasliannya, bukan dengan perkiraan atau rekayasa bahasa. Kita mengenal ada hadis dengan derajat sahih, karena diriwayatkan oleh orang-orang yang dipercaya, baik akhlaqnya, kuat ingatannya, juga bersambung jalur periwayatannya. Kita mengenal hadits dengan derajat hasan karena diriwayatkan oleh orang yang kurang kuat ingatannya. Juga ditemukan istilah hadits dhaif atau lemah karena diriwayatkan oleh orang yang tidak baik perilakunya, atau memiliki catatan dalam akhlaq.

Inilah prinsip ilmiah dalam penilaian berita. Kita bisa melacak dari sejarah kenabian, bahwa pernah terjadi informasi bohong yang mendiskreditkan Ummul Mukminin Aisyah Ra. Pada waktu itu, media penyebaran informasi hanyalah dari mulut ke mulut, dan belum berkembang teknologi informasi sebagaimana hari ini. Kita bisa membayangkan bagaimana kacau dan keruhnya suasana jika berita bohong semacam itu terekspos besar-besaran di mediua massa. Pengaruhnya akan sangat hebat di masyarakat. Allah sampai memberikan teguran atas peristiwa tersebut:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu” (An Nur:11).

Berita bohong tersebut dibawa oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafik, untuk menjatuhkan wibawa keluarga Nabi Allah dengan cara-cara yang amat hina. Akan tetapi justru karena adanya berita bohong tersebut pada akhirnya akan menyingkap hakikat kesucian dan kemuliaan Aisyah di hadapan Allah, maka berita bohong itupun berbalik menjadi sebuah kebaikan. Akan tetapi Allah menegur sikap beberapa kalangan kaum muslimin yang mendapatkan berita bohong tersebut:

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata” (An Nur: 12).

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar” (An Nur: 16).

Ayat-ayat di atas memberikan sebuah tuntunan perilaku bagi masyarakat, apabila menerima sebuah berita hendaklah mereka kritis dan tidak terjebak dalam sensasi murahan. Pada contoh kisah berita bohong tersebut, ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Pertama, adanya kenyataan bahwa orang-orang dengan kebaikan sekaliber Ummul Mukminin  Aisyah saja bisa mendapatkan fitnah dengan kebohongan yang sangat keji. Artinya, pemberitaan menyangkut pibadi seseorang bisa jadi merupakan pembunuhan karakter yang dilakukan dan direkayasa oleh kelompok tertentu untuk maksud-maksud tertentu.

Kedua, bahwa masyarakat di zaman Nabi juga memiliki peluang untuk terpedaya oleh adanya berita. Perhatikan teguran keras dari Allah berikut:

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal itu di sisi Allah adalah besar” (An Nur: 15).

Ayat di atas memberikan teguran dan sekaligus tuntunan moral yang amat agung tentang bagaimana mensikapi pemberitaan. Masyarakat harus cermat menangkap berita, dan tidak cepat menyebarluaskan berita hanya karena ada sensasi di dalamnya, tanpa melakukan klarifikasi terhadap apa yang sesungguhnya terjadi. Realitas masyarakat kita dewasa ini, opini dan persepsi mereka dibentuk oleh media massa, sementara sajian dalam media massa tersebut belum bisa dipastikan validitasnya.

Apabila berita bohong, gosip, isu dan lain sebagainya yang tidak jelas serta tidak memiliki sandaran kebenaran, disebarkan lewat media informasi cetak maupun elektronik, akan punya peluang memakan korban yang banyak untuk saat ini. Masyarakat menelan  berita yang didapatkan dari berbagai media, untuk kemudian membentuk persepsi, opini bahkan sikap dan perilakunya. Jika tidak berhati-hati, akan mudah terjebak ke dalam tuduhan kepada seseorang atau sekelompok orang padahal berita tersebut penuh kebohongan.

Maka mari berhati-hati…. Banyak berita simpang siur di sekitar kita, tentang apa saja. Tentang artis, tentang selebritis, tentang politisi, tentang pejabat….

Ternyata berkembang pula berita sekitar dakwah, tentang qiyadah, tentang keluarga qiyadah, dan berbagai sepak terjang mereka. Berkembang pula berita tentang rapat, pertemuan, musyawarah yang semestinya tidak boleh beredar, karena bukan konsumsi publik.

Jika tidak berhati-hati, akan membawa dampak keterpecahan kesatuan dan kohesivitas dalam dakwah. Bisa memunculkan kegoyahan kepercayaan kepada qiyadah, dan kepada sesama aktivis dakwah. Tanpa harus mencari-cari siapa yang bersalah, namun semua pihak harus melakukan introspeksi agar lebih proporsional dan bijak dalam mensikapi sebuah berita.

Karena, berita bisa juga bohong……