Kamis, 21 April 2011

Sekitar Unsoed Selayang Pandang

Violet. Salah satu tempat yang sering dikunjungi mahasiswa beberapa jurusan, terutama saat-saat UTS ataupun UAS. Kimia, Ilmu Tanah, Teknik Hasil Pertanian, dsb. Ya, lecture note, catatan terlengkap, dan diktat perkuliahan mereka dititipkan oleh koordinator kelas di tempat ini.

Wijaya. Pilihan bagi mahasiswa yang hendak menjilid laporan dan skripsi. Pengerjaan cepat, hasil bagus, dan biaya terjangkau.Mahasiswa jurusan lainnya juga menitipkan lecture note di sini (setiap jurusan memiliki tempat fotokopi favorit).

Fotokopi depan Asrama mahasiswa (biasa disebut Asput). Ada dua buah. Tempat alternatif memfotokopi KTP, KTM, berkas-berkas atau membeli alat tulis bagi mahasiswa yang tinggal di Asput ataupun mahasiswa yang kebetulan sedang mampir ke Asput. Karena Asput adalah tempat transit yang paling asik( ;D ).

Surya. Toko yang menjual kemikalia. Letaknya tepat di antara dua tempat fotokopi depan Asput. Jadi, mahasiswa yang memecahkan tabung reaksi, Erlenmeyer, dsb biasanya membeli gantinya di sini. Karena Surya adalah satu-satunya penjual alat kemikalia terdekat dengan kampus, maka terkadang harga tergantung mood penjual.

Sovia. Warnet yang berkembang cepat dan senantiasa berinovasi. Hal ini tentu karena pengelolanya mampu membaca pasar. Tempatnya nyaman. Selain melayani jasa internet dan Wi-Fi di lokasi, Sovia juga melayani pemasangan Wi-Fi di kos-kos terdekatnya.

Idaman. Warnet dengan modal besar, terlihat dari jumlah warnetnya (ada di kampus depan dan belakang), bangunan, dan jumlah unit komputernya. Bisa juga menjadi pilihan karena memiliki variasi biaya tergantung ruangan. Apakah Ac ataukah kipas angin?

Diva. Warnet ukuran medium. Warnet alternatif, jika warnet-warnet besar sudah fully booked.

Soeparno. Nama jalan. Jalan Dr. Soeparno tepatnya.

Djaelani. Nama gang.

Sumampir. Nama daerah. Dari Hr. Bunyamin ke arah Baturraden, Pabuaran belok kiri lurus terus.

Cendrawasih. Nama gang. Tembus ke Lapangan Grendeng.

Te-Ka. Swalayan kecil yang mampu mengakomodasi kebutuhan mahasiswa sekitarnya.

BK. Swalayan agak besar dan komplit. Tepat di depan gedung Pusat Administrasi.

Vandilla. CafĂ© spesialis jus. Identik dengan antrian yang selalu penuh. Untungnya semua pegawai begitu cepat dan cekatan melayani, sehingga yang mengantri tidak kelamaan dan bisa dipastikan antrian tidak akan ‘diselak’. Jusnya komplit dan pilihan menu paket makanannya juga lumayan.

Ramane. Tempat laundry. Letaknya persis di depan Vandilla.

Tantene. Resto spesialis ayam. Sambelnya menggigit, jusnya segar. Mampu menampung banyak orang. Biasa digunakan sebagai tempat berkumpul. Harga terjangkau dan tempatnya asik (saung-saung di atas kolam ikan).

Al-Fath. Tempat makan yang menyebar. Ada ukuran kecil dan sedang. Spesialis penyet. Capcaynya juga yang lumayan.

Mang Taher (Cirebon). Nasi goreng dan capcaynya TOP.

Mafaza, singkatan Masjid Fatimatuzzahra. Komplek masjid dengan banyak kegiatan. Ada PAUD, mini market, pusat bahasa, radio, klinik, dan ruang seminar. Bangunan Masjidnya sendiri besar. Senantiasa menjadi tempat persinggahan mahasiswa atau siapapun yang saat dalam perjalanan, mendapati dirinya memasuki waktu sholat. Lokasinya strategis, berada di antara kampus depan dan kampus belakang.

Nurul Ulum. Masjid kampus yang terletak di seberang Perpustakaan Pusat. Terkadang dijadikan tempat beraktivitas dan berkegiatan oleh mahasiswa. Namun, karena lokasi kurang strategis (yaitu pertigaan lampu merah yang cukup sulit menyebrang ke sana), maka hanya orang yang berniat ke Masjid ini yang akan mengunjunginya.

Baitul Ghufron. Mushola kecil di sudut Lapangan Karangwangkal. Setiap sore sekitar pukul 16.00 akan terdengar suara yang sungguh khas, suara medok seorang anak kecil yang terdengar dari TOA Mushola. Hal ini sungguh berkesan, sehingga mahasiswa dari luar daerah yang tinggal di sekitaran Mushola pasti hafal kumandang ini, ”Panggilaan ditunjukkaan kepadaaa santriwansantriwati. Diharaap segeradatang. Karenaaa waktunyasudahcukupsore. Sekali lagiii, panggilaan ditunjukkaan kepadaaa santriwansantriwati. Diharaap segeradatang. Karenaaa waktunyasudahcukupsore. Terima kasih. Wassalaaamu’alaikumwarohmatullohiii Wabarokaaatuh.”

Senin, 18 April 2011

Berita (Bisa) Bohong

Oleh : Cahyadi Takariawan

Hati-hati menyebar berita. Hati-hati mendengar berita.

Berita dalam kehidupan masyarakat saat ini telah dikemas dalam berbagai produk, dalam berbagai variasi dan corak yang sangat luas dan terus berkembang. Hal yang penting mendapat perhatian adalah, berita tidak boleh disuguhkan dengan prinsip dan cara-cara yang melanggar etika. Di antara etika dalam kaitannya dengan informasi adalah prinsip keadilan, kebenaran, kejujuran, serta ketepatan. Berita harus disampaikan secara benar, tidak mengandung fitnah atau hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran.

Allah telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil” (Al Ma’idah: 8).

Berita harus dikemas secara adil, sebagaimana Al Qur’an telah memerintahkan agar berlaku adil:

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (Al Ma’idah: 8).

Berita harus disampaikan secara jujur, tidak mengandung kebohongan atau hal yang dibuat-buat dan diada-adakan, semata-mata karena ingin membuat sensasi dan meraih keuntungan pasar. Rasulullah saw telah bersabda:

Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu menghantarkan kepada surga. Seseorang membiasakan dirinya dengan kejujuran sehingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan dusta membawa kepada keburukan dan keburukan menghantarkan kepada neraka. Seseorang membiasakan diri dengan dusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta” (riwayat Bukhari dan Muslim).

Islam sangat memperhatikan nilai berita, dan sejak dahulu dikenal memiliki tradisi ilmiah yang mengagumkan dalam penyuguhan informasi. Islam mengenal kedisiplinan dalam jalur riwayat, yaikni dengan adanya syuruthur rawi dan amanatun naqli. Rawi, yaitu orang yang membawa berita atau informasi, dikenakan beberapa syarat, seperti al ‘adalah (berkelakuan baik), adh dhabth (kuat ingatan), salim minasy syudzudz wal ‘illah (tidak ada keanehan dan kecacatan dalam beritanya).

Demikian pula tradsisi amanatun naqli yakni sebentuk kejujuran ilmiah dalam hal mencatat pendapat atau interpretasi yang dikemukakan oleh seorang mujtahid. Dengan tradisi ilmiah seperti ini akan mempersempit kemungkinan manipulasi pendapat, sebab setiap pendapat dapat dilacak sampai sumber asalnya.

Tradisi ilmiah ini akan menjauhkan diri dari qala wa qila (katanya-katanya) dalam menyerap dan menerima berita, tidak sebagaimana banyak berita yang berkembang di media massa pada umumnya yang tidak memiliki kedisiplinan ilmiah dalam pengambilan data.

Penilaian atas kualitas pembawa berita merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban ilmiah atas validitas sebuah berita. Demikian pula, kebersambungan sanad periwayatan, memungkinkan berita terjaga keasliannya, bukan dengan perkiraan atau rekayasa bahasa. Kita mengenal ada hadis dengan derajat sahih, karena diriwayatkan oleh orang-orang yang dipercaya, baik akhlaqnya, kuat ingatannya, juga bersambung jalur periwayatannya. Kita mengenal hadits dengan derajat hasan karena diriwayatkan oleh orang yang kurang kuat ingatannya. Juga ditemukan istilah hadits dhaif atau lemah karena diriwayatkan oleh orang yang tidak baik perilakunya, atau memiliki catatan dalam akhlaq.

Inilah prinsip ilmiah dalam penilaian berita. Kita bisa melacak dari sejarah kenabian, bahwa pernah terjadi informasi bohong yang mendiskreditkan Ummul Mukminin Aisyah Ra. Pada waktu itu, media penyebaran informasi hanyalah dari mulut ke mulut, dan belum berkembang teknologi informasi sebagaimana hari ini. Kita bisa membayangkan bagaimana kacau dan keruhnya suasana jika berita bohong semacam itu terekspos besar-besaran di mediua massa. Pengaruhnya akan sangat hebat di masyarakat. Allah sampai memberikan teguran atas peristiwa tersebut:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu” (An Nur:11).

Berita bohong tersebut dibawa oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafik, untuk menjatuhkan wibawa keluarga Nabi Allah dengan cara-cara yang amat hina. Akan tetapi justru karena adanya berita bohong tersebut pada akhirnya akan menyingkap hakikat kesucian dan kemuliaan Aisyah di hadapan Allah, maka berita bohong itupun berbalik menjadi sebuah kebaikan. Akan tetapi Allah menegur sikap beberapa kalangan kaum muslimin yang mendapatkan berita bohong tersebut:

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata” (An Nur: 12).

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar” (An Nur: 16).

Ayat-ayat di atas memberikan sebuah tuntunan perilaku bagi masyarakat, apabila menerima sebuah berita hendaklah mereka kritis dan tidak terjebak dalam sensasi murahan. Pada contoh kisah berita bohong tersebut, ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Pertama, adanya kenyataan bahwa orang-orang dengan kebaikan sekaliber Ummul Mukminin  Aisyah saja bisa mendapatkan fitnah dengan kebohongan yang sangat keji. Artinya, pemberitaan menyangkut pibadi seseorang bisa jadi merupakan pembunuhan karakter yang dilakukan dan direkayasa oleh kelompok tertentu untuk maksud-maksud tertentu.

Kedua, bahwa masyarakat di zaman Nabi juga memiliki peluang untuk terpedaya oleh adanya berita. Perhatikan teguran keras dari Allah berikut:

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal itu di sisi Allah adalah besar” (An Nur: 15).

Ayat di atas memberikan teguran dan sekaligus tuntunan moral yang amat agung tentang bagaimana mensikapi pemberitaan. Masyarakat harus cermat menangkap berita, dan tidak cepat menyebarluaskan berita hanya karena ada sensasi di dalamnya, tanpa melakukan klarifikasi terhadap apa yang sesungguhnya terjadi. Realitas masyarakat kita dewasa ini, opini dan persepsi mereka dibentuk oleh media massa, sementara sajian dalam media massa tersebut belum bisa dipastikan validitasnya.

Apabila berita bohong, gosip, isu dan lain sebagainya yang tidak jelas serta tidak memiliki sandaran kebenaran, disebarkan lewat media informasi cetak maupun elektronik, akan punya peluang memakan korban yang banyak untuk saat ini. Masyarakat menelan  berita yang didapatkan dari berbagai media, untuk kemudian membentuk persepsi, opini bahkan sikap dan perilakunya. Jika tidak berhati-hati, akan mudah terjebak ke dalam tuduhan kepada seseorang atau sekelompok orang padahal berita tersebut penuh kebohongan.

Maka mari berhati-hati…. Banyak berita simpang siur di sekitar kita, tentang apa saja. Tentang artis, tentang selebritis, tentang politisi, tentang pejabat….

Ternyata berkembang pula berita sekitar dakwah, tentang qiyadah, tentang keluarga qiyadah, dan berbagai sepak terjang mereka. Berkembang pula berita tentang rapat, pertemuan, musyawarah yang semestinya tidak boleh beredar, karena bukan konsumsi publik.

Jika tidak berhati-hati, akan membawa dampak keterpecahan kesatuan dan kohesivitas dalam dakwah. Bisa memunculkan kegoyahan kepercayaan kepada qiyadah, dan kepada sesama aktivis dakwah. Tanpa harus mencari-cari siapa yang bersalah, namun semua pihak harus melakukan introspeksi agar lebih proporsional dan bijak dalam mensikapi sebuah berita.

Karena, berita bisa juga bohong……

Kamis, 03 Maret 2011

Perang Uhud (Bagian Pertengahan)

Hanzhalah bin Abu Amir baru saja melangsukan pernikahannya. Malam itu, ia sedang bersama sang istri dalam peraduan. Akan tetapi, gemuruh pertempuran Uhud memanggilnya. Hanzhalah beranjak menyambut seruan jihad malam itu juga.

 

Sejauh mata memandang hanyalah padang pasir yang tandus, bebatuan, dan bukit. Pada arena tersebut, dua orang berhadap-hadapan. Hanzhalah melawan komandan kaum musyrik Quraisy, Abu Sufyan bin Harb. Mereka menikam dan menghindar satu sama lain. Hanzhalah, dengan sisa-sisa kekuatan, sedikit lagi dapat mengalahkan lawan. Sayangnya, dari arah yang tidak diduga, Syaddad bin Al Aswad menikamnya. Ia syahid seketika. Sebagai catatan, ketika perang Uhud usai, Rasulullah dan para sahabat menyaksikan bekas air membasahi jasad Hanzhalah hingga ke tanah di mana jasad itu terbaring. Ya, jasadnya dimandikan malaikat karena ia dalam keadaan junub ketika syahid, begitu Rasulullah bertutur. Maha suci Allah...

 

Mari kita tinggalkan kisah Hanzhalah, manusia istimewa karena jasadnya dimandikan malaikat. Di sisi lain arena pertempuran, dua pasukan berhadapan. Kaum Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid secara bertubi-tubi menyerang sayap kiri pasukan kaum muslimin. Konon, lewat pasukan sayap kiri, pasukan inti dapat dengan mudah dibuat kocar –kacir dan dapat dipastikan hasil akhirnya. Hal ini bisa diatasi berkat strategi yang dilakukan Rasulullah. Beliau telah menempatkan pasukan pemanah di atas bukit Uhud. Jadi, setiap pasukan Quraisy menyerang pertahanan sayap kiri, pasukan pemanah menghujani mereka dengan panah-panah. Rencana Khalidpun gagal.

 

Bendera psukan perang selalu dipegang oleh orang terkuat. Ia-sang pemegang bendera akan menjadi incaran lawan untuk dihabisi. Demikian pula dengan bendera kaum Quraisy. Kemenangan yang hampir diperoleh kaum muslimin menyebabkan tak seorangpun dari kaum Quraisy berani memungut bendera, setelah pemegang bendera terakhir, yaitu Shu’ab, tewas. Mereka mulai mundur dan melarikan diri.

 

Rasulullah telah berpesan dengan tegas agar pasukan pemanah tetap di atas bukit apapun yang terjadi- apapun yang terjadi hingga beliau mengirim utusannya. Tetapi, kemenangan yang hampir tiba itu membuat pasukan pemanah merasa berada di atas angin. Perintah sang komandan, Abdullah bin Jubair, tidak mereka indahkan. Mereka tergiur harta rampasan perang yang ditinggal lari oleh pasukan musyrik Quraisy. Kini, hanya tersisa 10 orang pemanah di atas bukit. Mengetahui hal ini, Khalid yang sudah mundur akhirnya memutar arah dan tiba di balik bukit Uhud. Ia bersama pasukannya menghabisi kesepuluh pasukan pemanah itu. Babak baru dari Perang Uhudpun dimulai.

 

Amrah binti Alqamah Al Haritsiyah, salah seorang wanita musyrik mengambil dan mengibarkan bendera kaum Quraisy hingga pasukan musyrik Quraisy yang masih ada di arena berkumpul. Selanjutnya, mereka menyerang pasukan muslimin yang lengah dari segala arah. Rasulullah hanya bersama sembilan orang sahabat. Saat itu, pasukan muslimin tercerai berai. Bahkan ada yang melarikan diri ke atas bukit atau kembali ke Madinah. Sebagian berbaur dengan pasukan musuh, tak tahu mana kawan tak tahu mana lawan.

 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Aisyah r.a. bahwa Hudzaifah berseru,”Hai hamba Allah, ia ayahku!” karena khawatir ayahnya, Al Yaman, menjadi korban salah sasaran. Namun, yang terjadi terjadilah. Al Yaman terbunuh oleh pasukan muslimin sendiri. Hudzaifah hanya bisa berkata,”semoga Allah mengampuni kalian.”

 

Cobaan berat tidak terjadi pada Hudzaifah saja, pasukan musliminpun dikejutkan dengan kabar bahwa Rasulullah telah terbunuh. Mendengar hal ini, mental pasukn muslimin menjadi hilang. Berkat jiwa kesatria beberapa sahabat, hal ini bisa diatasi. Mereka mengembalikan semangat perjuangan dengan berkata bahwa jika Muhammad terbunuh,  Allah tetap hidup, maka berjuanglah untuk-Nya. Akhirnya, kaum muslimin bangkit semangatnya dan mulai bersatu. Apalagi ketika mereka mengetahui kabar tersebut adalah bohong. Abu Bakar, Umar, Ali, dan beberapa sahabat yang tadinya berada di barisan terdepan menuju Rasulullah. Mereka merasa keselamatan Rasulullah terancam.

 

Dugaan mereka tepat, pertempuran lebih banyak berkobar di sekitar Rasulullah. Karena sebelum itu Rasulullah, demi mengalihkan perhatian musuh, berseru,”Kemarilah! Aku adalah Rasul Allah.”

 

Tentu saja kaum muslimin berusaha melindungi beliau. Yang berada paling dekat posisinya dengan Rasulullah hanyalah 7 orang kaum Anshar dan 2 orang kaum Muhajirin. Satu persatu dari mereka gugur hingga tersisa dua orang kaum Muhajirin. Ini adalah saat kritis atas kondisi Rasulullah. Dengan mudahnya musuh melancarkan serangan ke arah beliau.

 

Utbah bin Abi Waqash melempar batu ke wajah Rasulullah, batu itu mengenai gigi seri dan bibir bawah beliau. Abdullah bin Syihab Az Zuhry memukul hingga mengenai kening beliau. Tak hanya itu, penunggang kuda, Abdullah bin Qami’ah, dengan beringasnya memukulkan pedang ke bahu Rasulullah (rasa sakit akibat serangan ini dirasakan beliau hingga satu bulan). Ia memukul kembali Rasulullah hingga mengenai tulang pipi Rasulullah. Pukulan itu sama kerasnya dengan pukulan yang pertama, hinga rantai topi besi beliau lepas dan mengenai kening beliau.

 

Dalam riwayat Ath-Thabrany disebutkan, beliau bersabda, ”Amat besar kemarahan Allah terhadap suatu kaum yang membuat wajah Rasulnya berdarah.” Setelah diam sejenak, beliau bersabda kembali,”Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

 

Kedua  Muhajirin yang masih bersama Rasulullah adalah Sa’ad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah. Thalhah melawan sebelas musuh hingga jari-jari tangannya putus. Dalam riwayat Al Hazim dikatakan, Thalhah memperoleh 35-39 luka pada Perang Uhud. Jika mengenang Perang Uhud, Abu Bakar akan berkata,”Hari itu semuanya milik Thalhah.”

Di saat kritis seperti itu, Allah menurunkan prtolongan-Nya. Rasulullah bertempur dengan gigih bersama dua orang asing berpakaian putih. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa kedua orang asing itu adalah Malaikat Jibril dan Mikail.

 

Naji bin Jubair meriwayatkan,”Aku mendengar ada seorang Muhajirin berkata’Aku ikut dalam Perang Uhud. Kulihat bagaimana panah-panah melesat di sekitar Rasulullah, namun tak satupun mengenai beliau. Kulihat Abdullah bin Syihab A Zuhry berkata saat itu,’Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad. Aku tidak akan selamat jika ia selamat’ Padahal saat itu beliau ada di dekatnya dan tak seorangpun bersama beliau. Bahkan kemudia ia melewati beliau. Shafwan mengolok tingkahnya, namun ia menjawab, ’Demi Allah aku tidak bisa melihatnya. Aku berani sumpah Demi Allah pasti ada yang menghalangi pandangan kami.’”

 

Tugas merangkum Sirah Nabawiyah karya Al Mubarakfury pada Bab Perang Uhud halaman 345-361.

Minggu, 20 Februari 2011

Qolam 5

Subhanallah, kerinduanku akan teman-temanku di Purwokerto terobati hari Ahad kemarin. Tidak hanya itu, bahkan lebih sekedar melepas rindu. Apa pasal? Panjang ceritanya. Jadi, Rohis di SMA ku (SMAN 1) belum memiliki ikatan alumni. Saat aku dimutasi dari Purwokerto, maka aku dimasukkan ke jalurnya alumni Rohis SMAN 5 (bisa dibilang 'penyusupan' legal). Nama ikatan alumninya adalah Qolam 5 (Ikatan Alumni Muslim SMAN 5 Tangerang). Gathering diadakan setiap bulan. Ahad kemarin, kegiatan liqo dialihkan untuk mengikuti acara ini. Lokasinya? ini dia yang sangat-sangat berkesan. Aku menerima jarkoman, kalau ternyata acara dilaksanakan di lt.2 Masjid Al-Istiqomah, Jl. Semangka. Lha? itu kan Masjid jaman aku SD. Tiba di sana, whuu euforianya dua kali lipat. Yang pertama, seakan aku sudah mengenal semua orang di sana, seperti saat ada acara-acara semacam ini di Purwokerto, kedua ingatanku kembali saat aku bersekolah di SD ini. Aku tidak bisa diam, ke sana kemari sambil bergumam, 'masih tetap sama', 'ih ada yang berubah', dan ungkapan lain yang aku sampaikan kepada temanku, dia hanya tersenyum dan bilang 'nostalgia nih' dan bla-bla yang aku tidak dengar lagi karena sudah tenggelam dengan keasyikanku sendiri. Aku benar-benar merasa bersyukur. Rangkaian kegiatannya ada tiga, yang pertama adalah nonton bareng film dokumenter dengan judul Bank to The Poor yang dibedah oleh Akh Fadli, kemudian kajian Manajemen Keuangan Muslim oleh Ust. Johansyah, keduanya merupakan alumni SMAN 5, dan yang terakhir yaitu penyerahan secara simbolis beasiswa dari Qolam 5 kepada adik-adik SMAN 5. Nama kegiatan ini yaitu BTS (Back To School) karena yang diharapkan dari BTS, sesuai namanya, kembali ke sekolah, meski telah lulus, para alumni diharapkan tetap berkontribusi bagi adik-adiknya yang masih bersekolah. Terharu aku melihat teman-temanku ini, aku berharap Rohis SMA ku juga segera membuat ikatan alumni sebaik Qolam 5.

Kamis, 03 Februari 2011

pernah ada masa-masa

pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”

maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”

padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan
maka seolah aku telah membiarkan
orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-

dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita
hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-

kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal
maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”

“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr
dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”

tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda
“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”

‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”
lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang

ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..

(salim a. fillah)

----------------------------------

"di sini kita pernah bertemu,

mencari warna seindah pelangi,

ketika kau mengulurkan tanganmu,

membawaku ke daerah yang baru,

dan hidupku kini ceria,

Kini dengarkanlah...

Dendangan lagu tanda ingatanku

Kepadamu teman...

Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu...

Tak kan ku lupa walau badai datang melanda

Walau bercerai jasad dan nyawa..." untukmu teman-brother


syair ini mengalun lembut dalam hatiku semenjak pagi,

berulang terlantun seiring langkah,

rihlah bersama, sebagai tanda perpisahan dua sahabat kami,

berbagi bekal, hadiah, tausyiah, dan curahan hati,

sesekali tergelak tawa, sesekali mengharu biru.