Awal tahun, awal semester dan semua hari-hari penting lainnya (Idul Fitri, milad,dll) selalu dimanfaatkan sebagai momentum untuk menjadikan diri lebih baik lagi. Misalnya Maulid Nabi SAW dijadikan awal yang baik untuk lebih mengenal Rasulullah atau Hari Ibu yang dimanfaatkan seseorang untuk memperbaiki dan menjalin hubungan lebih baik lagi dengan sang Bunda. Ya, meskipun untuk melakukan perubahan bisa dilakukan kapan saja.
Penulis yakin, teman-teman memiliki tekad menjadi lebih baik dengan memanfaatkan momentum semester baru ini. Sayangnya terkadang tekad atau keinginan tersebut hanya sampai di situ saja. Tidak ada tindak lanjut darinya sehingga hanya bisa terkagum-kagum atas kesuksesa teman sementara nasibnya sendiri berakhir dengan penyesalan dan kekecewaan. Itulah yang terus terulang tiap akhir semester ataupun tiap akhir jenjang pendidikan.
Gimana sih perasaan kita waktu pertama masuk universitas? Pasti ada keinginan ‘wah, di sini prestasiku harus lebih bagus lagi, lembaran baru kisah baru yang lebih bermutu ah’ atau buat yang udah nerima IP di akhir semester ‘semester depan IP kudu lebih bagus!’. Kemudian teman-teman mulai merencanakan suatu strategi untuk mencapainya. Namun semangat itu cuma bertahan di permulaan dan di pertengahan sampai akhir mulai kendur. Pada saat menerima hasil belajar, sejarah berulang terus di akhir semester yaitu kecewa dan menyesal. Padahal Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang saat ini sama saja dengan saat kemarin adalah orang yang rugi, dan orang yang saat ini lebih buruk dari saat kemarin, celaka ia!
Banyak hal yang menyebabkan semangat perubahan menjadi lebih baik tidak bertahan lama. Diantaranya adalah sikap lemah dan malas, maksudnya adalah tidak mampu memaksakan diri untuk berusaha keras dan berdisiplin. Dengan kata lain adalah memanjakan diri. Memang manusia cenderung pada posisi nyaman, sebisa mungkin memperoleh sesuatu tanpa bersinggungan dengan masalah. Padahal masalah tersebut akan mengantarkan pada tujuannya. Misalnya Seseorang bercita-cita pandai berorganisasi sehingga sukses di dunia kerja. Tetapi tidak ada usaha ke arah itu, waktu luangnya tidak dimanfaatkan dengan belajar berorganisasi dengan terjun langsung di kegiatan kampus atau LSM lain. Baginya mengikuti kegiatan semacam itu buang waktu dan menambah beban saja. ia pikir hanya dengan mempelajarinya dari buku atau hasil rekaan pikirannya ia dapat memecahkan permasalahan suatu kelompok. Hal ini sama seperti mempelajari teori renang tanpa praktek di kolam renang. Bagaimanakah saat ia harus mempraktekkan teorinya di kolam renang padahal berenang pun ia belum pernah? Jawabannya bisa-bisa tenggelam.
Selain itu dapat pula disebabkan sudah menumpuknya segala persoalan maupun tanggung jawab pada semester yang ditinggalkan yang tidak atau belum terselesaikan. Misalnya teman-teman menargetkan nanti pada kelulusan hanya akan ada tiga nilai C, namun pada awal semester saja sudah punya empat nilai C. Tentunya ini mempengaruhi semangatmu.
Niatnya hendak membuka lembaran baru untuk ditulisi dengan kisah baru yang bermutu, namun karena lembaran lama pun belum beres, menyebabkan pikiran dihantui oleh kegagalan. Sehingga problem yang lalu tak terselesaikan, problem yang sekarang tak terurus dan mengakibatkan beban semakin bertumpuk. Ya, menulis pada lembaran yang masih kosong dan putih bersih lebih enak ketimbang melanjutkan tulisan pada lembar lama, apalagi bila tulisan tersebut tidak beraturan dan banyak bekas hapusannya. Mengapa tidak tutup buku saja? Beban yang belum terselesaikan bisa dicantumkan pada lembaran baru, dijadikan program yang harus diselesaikan bersamaan dengan program semester baru pada periode berikutnya. Karena memang menulis pada lembaran baru lebih bisa menumbuhkan semangat baru. Jangan lupa setelah berusaha, berdo’alah meminta yang terbaik dari Allah SWT.
Minggu, 09 Mei 2010
Selasa, 27 April 2010
10 Kekuatan Lapar
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Di dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menyebutkan, bahwa ada 10 macam kekuatan, akibat perut yang terbiasa lapar karena puasa.
Pertama: Hati menjadi bersih, dan pandanganya kuat.
Kedua: Hati menjadi lembut.
Ketiga: Rendah hati dan hilangnya sifat sombong.
Keempat: Tidak lupa terhadap azab Alloh.
Kelima: Nafsu menjadi lemah dan tidak berdaya.
Keenam: Tidak banyak tidur.
Ketujuh: Melaksanakan ibadah menjadi ringan.
Kedelapan: Badan jadi sehat dan jauh dari penyakit.
Kesembilan: Biaya hidup menjadi lebih sedikit.
Kesepuluh: Dengan demikian, memungkinkan untuk memperbanyak shodaqoh
dari sini
Jumat, 23 April 2010
Kelinci VS Angsa
cucu : mbah, kan ada kelinci sama angsa lomba lari. kira-kira yang menang siapa mbah?
mbah : ya kelinci yang menang
cucu : hehe, angsanya aku mbah
mbah : ya kelinci yang menang
cucu : hehe, angsanya aku mbah
Rabu, 14 April 2010
Kamis, 08 April 2010
Senin, 05 April 2010
[Succes with Sholat] Meraih Optimis dengan Berwudhu
| Rating: | ★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Religion & Spirituality |
| Author: | Salman Ar-Raisy |
Setiap manusia mengharapkan yang terbaik bagi dirinya. Sayangnya, untuk memperoleh yang terbaik tersebut, terkadang manusia enggan menggunakan cara-cara yang terbaik pula. Bahkan kalah sebelum berperang dengan mengatakan bahwa dirinya takkan sanggup mewujudkan mimpinya tersebut.
Adalah Georgi Lozanov seorang Psikolog dari Sofia, Bulgaria. Beliau yang kemudian dikenal sebagai Bapak Accelerated Learning dunia telah lebih dari 25 tahun meneliti tentang autosugesti. Kesimpulan yang diperolehnya yaitu ketika seseorang memberikan sugesti pada dirinya sendiri, maka hal tersebut akan mempengaruhi kerja pikirannya. Ketika seseorang mengatakan saya bisa, maka pikirannya akan mensinergikan energi kata-kata tersebut dan memerintahkan seluruh anggota tubuhnya untuk berupaya ke arah bisa tadi sehingga orang tersebut menjadi benar-benar bisa. Dengan teknik sugestopedia yang dikembangkannya, ia mampu mengajarkan mahasiswanya untuk menghafal 1200 kata bahasa asing (Prancis atau Inggris) perhari dengan tingkat pengingatan 98 %.
Sebut saja Muhammad Ali, yang dijuluki The Big Mouth. Julukan tersebut disandangnya karena setiap sebelum pertandingan tinju, ia selalu berteriak bahwa ia pasti menang, ia pasti menjadi yang terbaik dan demikianlah hasilnya. Michael Jordan sang master basket. Saat ia menggiring bola pada pertandingan basket, terlihat mulutnya bergumam sesuatu yng belakangan diketahui, ia ternyata tengah meng-autosugesti dirinya dengan mengatakan pada dirinya sendiri “I can! I can! I can!” hingga kita dapat mengenang prestasinya sekarang.
Orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang optimis, yang senantiasa memberikan informasi-informasi positif kepada dirinya. Kata-kata optimis bukan pesimis. bacaan-bacaan yang baik dan positif, bukan cerita kacangan yang menerawangkan pikiran menghayalkan yang bukan-bukan.
Jauh sebelum teknik autosugesti diteliti dan diketemukan, Allah SWT melalui Rasulullah SAW telah memberikan pelajaran tersebut lewat perintah untuk senantiasa mensucikan diri dengan berwudhu. Dalam wudhu, terdapat nilai filosofis bagaimana hendaknya kita memberikan perlakuan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang-oarng di sekitar.
Membasuh mulut, yang menggugurkan dosa-dosa ucapan kita. Allah menghendaki agar kita memasukkan makanan yang halal dan mengeluarkan kata-kata yang baik dari mulut kita, kata-kata positif bukan kata-kata yang menyakiti, mencaci apalagi memfitnah.
Membasuh muka. Di sana ada kedua mata kita. Dengan air wudhu semoga dosa kecil yang menumpuk pada mata-mata kita berguguran bersama air wudhu. Dari sana kita menyadari untuk apa mata ini. Untuk mentadaburi ayt-ayat-Nya, untuk menangisi dosa-dosa, bukan untuk bermaksiat pada-Nya.
Dengan membasuh kedua tangan, sadarilah pada diri ini bahwa tangan diciptakan untuk kita berkarya, bukan tangan yang merusak apalagi menyakiti. Membasuh sebagian kepala dan telinga, dengan akal pikiran kita, hendaknya digunakan untuk berpikir positif, maju dan mengembangkan potensi bagi kemaslahatan manusia, bukan untuk berpikir jahat, kotor apalagi membuat makar untuk mencelakakan orang lain. Dengan membasuh kedua kaki, dengan demikian kita ingat kembali agar kaki-kaki ini dilangkahkan ke majelis-majelis ilmu, ke tempat yang menjadikan diri lebih baik, bukan ke tempat maksiat, tempat yang merusak diri dan harga diri.
Mari kita belajar berwudhu kembali dan senantiasa mensucikan diri, hati, dan pikiran dengan berwudhu. Dengan demikian kita peroleh kembali segala yang terbaik pada diri kita dan memperoleh rasa optimis sehingga mampu belajar dan menghasilkan karya yang terbaik pula.wallahu’alam
Langganan:
Postingan (Atom)