Senin, 08 Maret 2010

Sherlock Holmes

Dr. Watson berperawakan sedang, agak gemuk, tipe dokter & tipe2 sahabat yang setia. Sedangkan Mr. Holmes jangkung tinggi kurus, cerdas. Itu bayanganku selama ini kalo baca novelnya, tp begitu liat movienya, Mr. Holmesnya kayak detektif slenge'an masa kini, muka Amrik slenge'an, & tampang mesum, payah.Dr.Watsonnya mnurutku yg lebih pas jd Mr.Holmes, england klasik, berkelas, & terhormat.

Rabu, 03 Maret 2010

Kotak Pandora

Saat pulang ke rumah, seperti biasa Sita menggeledah isi kamarnya untuk memastikan barang2nya masih tersimpan rapi di tempat semestinya terutama laci ukuran besar di paling bawah meja belajar. Laci itu merupakan kotak pandora bagi Sita, krn setiap kali ia membuka laci tesebut ia akan menyadari bahwa ia bukan anak2 lagi. Apa isinya? Ternyata novel2 sejenis goosebumps atau detektif karya2 enid blyton dan komik kesayangannya dulu yaitu detektif conan. Jika ada yang hilang, ia pasti menggerutu pada adiknya "kalo slese baca dibalikin lg doong...". Sita memang tidak lagi membaca novel2 dan komik2 itu, tp ia belum mampu membuangnya karena ia tumbuh didampingi bacaan2 tersebut dan banyak kenangan di sana. Setiap ia membuka laci itu, ia akan berpikir buku2 itu sekarang tidak menarik pasti karena ia bukan anak2 lagi. Dari situlah ia akan merenung dan menghitung-hitung dirinya.

Senin, 11 Januari 2010

Balada Laron

Seperti biasa, jika tidak ada kegiatan tercatat di agenda, Sita mengunjungi rumah mbahnya d bawah lereng bukit dekat sungai Serayu. Sore yang dingin, Sita menemani mbah kakung menonton tv. Sebenarnya kurang tepat dibilang menonton tv, tp lebih tepat gonta ganti channel tv, cari yg ada beritanya aja begitu mengikuti usul mbah. Sedang khusyuknya melihat tv akhirnya Sita tersadar juga bahwa sejak tadi ada hewan berseliweran menabrak jidatnya,"duh apaan si nih?" teplokk!! Ia mendaratkan pukulan dengan kekuatan terkontrol demi kepalanya itu. Saking terkontrolnya, si hewan sukses meloloskan diri dari maut. Teplokk!! Tidak berhasil juga hingga ia putuskan menengadah ke atas, karena lama kelamaan telinganya mendengar suara bising. "Innalillahi! Mbah! Laron banyak amat.." Sita terkejut dan serta merta melonjak berdiri karena d atas kepala, belasan laron berputar-putar. Oh bukan, bukan kepalanya yang berkilau cemerlang sehingga laron merubunginya. Tadinya ia berharap karena itu, sayang sekali ternyata karena Sita duduk tepat d bawah lampu. Sita melayangkan matanya ke setiap lampu di rumah itu, 'wabah laron!' pikirannya mulai hiperbolis."Mbah,gimana ni?kemaren gini juga ya mbah?" tanya Sita sambil berpikir. "ya tapi tidak banyak begini." kata mbah. "Mbah,kita matiin aja lampunya,terus kita ke ruang tamu biar pada ke lampu ruang tamu. Nah terus lampu ruang tamu dmatiin,kita buka pintu luar,biar laronnya pada keluar,baru kita tutup pintunya." Mbah menerima usul Sita. Mbah dan Sita menuju ruang tamu diikuti puluhan laron yang tadinya ada d lampu2 dalam, idih pada nabrak2 Sita dan Mbah, hiy! yay! wadhow! Setelah dirasa tak ada laron d dalam, Mbah menutup pintu dalam, Sita membuka pintu ruang tamu dan mematikan lampunya. Laron2 keluar dan menabrak2 lagi. "gak bisa napas apa klo gk ada lampu?sabar kenapa.." tanya Sita asal saja pada laron2 yang lewat. Tanpa ada jawaban.

Senin, 09 November 2009

Satu Daun Kembali Terjatuh

Tiba di Stasiun Purwokerto, di salah satu pintu menuju keluar stasiun terlihat sosok pria beruban dan agak gemuk tersenyum sumringah ke arahku. Aku tidak merespon karena aku tidak begitu memperhatikannya, begitu mendekat, "eeehh, Mbah" sapaku.

Oo, ternyata adik mbahku yang namanya Mbah Tursan sedang tugas di Stasiun Purwokerto. "oalah, putuku* (oalah cucuku)" katanya sambil tertawa-tawa.

"Aku nggak ngeh Mbah" kataku sambil cengar-cengir. "Tugas sampe kapan Mbah di Purwokerto?" Tanyaku.

"Rabu pagi" katanya,"Mbah lagi gak bawa kendaraan eee.." kata Mbah Tursan.

"Gak papa Mbah aku bareng temenku" kataku sambil menunjuk ke arah Liyoo adik kosku.

"ooh, iya iya. Besok kalo ada apa-apa ke sini aja ya, Mbah sampe Rabu pagi." Kata mbah berbaik hati. "Iya Mbah, makasih." balasku.

"Mbah, aku duluan ya",

"iya, hati-hati" katanya dengan wajahnya yang selalu sumringah, aku lihat sebenarnya mbah ingin berlama-lama cerita, tapi mbah sedang bertugas dan Liyoo sedang menuungguiku.

Seorang Bapak melihat ke arah kami yang begitu hebohnya tertawa-tawa, lalu Mbah Tursan mengatakan ke arah bapak berseragam itu,"iki putuku iki".

 "O.."kata Bapak itu sambil senyum ke arahku, aku kembali senyum ke bapak itu sambil berpamitan.

Di angkutan menuju kos, saking senangnya, aku beritahu semua orang yang kenal mbah, dari Ibu sampai Le Riyanti. Sungguh senang di daerah jauh begini bertemu seorang yang sangat kita kenal.

Beberapa hari kemudian aku sudah berada di Semarang untuk menuju Jepara membeli bahan penelitian. Niatnya ingin mengunjungi Mbah di Daerah Gedong namanya (kata sepupuku), sayangnya tidak sempat. 'Lain waktu bisa ketemu' pikirku.

Itulah saat terakhir aku bertemu Mbah Tursan. Tadi siang ibu telepon,"Des, Mbah, Tursan meninggal kecelakaan, Bapak sekarang lagi pulang ke Brani." Deg!!! Aku shock dan teringat Mba Arum,tante kecilku.'mba, sabar ya mba'. Huk huk, aku terenyuh. Ya Allah, umur manusia Hanya Engkau Yang Tahu.

Mungkin berikutnya giliran kita....

satu daun kembali terjatuh